• Jumat, 17 September 2021

Akademisi: Metode Pembelajaran Al Quran untuk Usia Dewasa Masih Minim

- Kamis, 29 Juli 2021 | 20:10 WIB
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Probolinggo Dr Heri Rifhan Halili. (antara)
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Probolinggo Dr Heri Rifhan Halili. (antara)

INILAH, Bandung - Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Probolinggo Dr Heri Rifhan Halili mengemukakan metode pembelajaran Al Quran untuk orang dewasa masih sangat minim jika dibandingkan dengan metode belajar untuk anak-anak.

“Kenyataan inilah yang membuat saya tergerak untuk melakukan riset pengembangan model pembelajaran Al Quran yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan orang dewasa dalam belajar membaca kitab suci umat Islam ini, yakni meliputi buku ajar dan metode yang pas,” ujar Rifhan dalam rilis yang diterima di Malang, Jawa Timur, Kamis.

Mahasiswa Program Doktoral Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menyelesaikan ujian terbuka promosi Doktornya pada Selasa (27/7) itu mengaku penelitian yang dilakukannya berangkat dari fenomena masih tingginya angka buta huruf Al Quran di Indonesia.

Dalam disertasinya yang berjudul "Pengembangan Model Pembelajaran Membaca Al Quran Usia Dewasa dengan Peta Konsep dan Kosakata Indonesia di Tiga Majelis Ta’lim Jawa Timur" itu, Rifhan mengambil sampel penelitian tiga majelis ta'lim.

Pria kelahiran Pulau Kangean 16 Maret 1988 ini membeberkan bahwa penelitian IIQ Jakarta tahun 2018 menyebut angka buta huruf Al Quran di Indonesia masih sangat tinggi, yaitu 65 persen dari total penduduk Muslim, sementara data dari BPS tahun 2013 menyebutkan persentase umat Islam yang belum bisa membaca Al Quran mencapai 54 persen.

Menurut Doktor 33 tahun itu, di antara faktor penyebab fenomena tersebut adalah masih banyaknya Muslim usia dewasa di Indonesia yang belum bisa membaca Al Quran, sementara lembaga dan metode pembelajaran Al Quran untuk dewasa masih minim jika dibandingkan dengan metode belajar Al Quran bagi anak-anak.

Dalam disertasinya Rifhan menjelaskan bahwa orang dewasa memiliki kebutuhan dan gaya belajar yang berbeda dengan anak-anak, di antaranya orang dewasa tidak bisa dipaksa belajar, tapi dengan kesadaran sendiri, tingkat stres mereka yang tinggi karena kesibukan pekerjaan.

Selain itu, psikologi yang mudah tersinggung jika merasa tidak dihargai, kekeluan lidah saat melafadzkan huruf Arab, hingga daya tangkap yang menurun bagi yang sudah memasuki masa lanjut usia.

Karena itu, kata Rifhan, para pengajar Al Quran usia dewasa harus memahami betul bagaimana kebutuhan dan psikologi belajar orang dewasa, sebab keterlibatan ego orang dewasa dalam belajar akan sangat menentukan keberhasilan pembelajaran bagi mereka.

Halaman:

Editor: suroprapanca

Terkini

X