• Minggu, 28 November 2021

Akademisi: Metode Pembelajaran Al Quran untuk Usia Dewasa Masih Minim

- Kamis, 29 Juli 2021 | 20:10 WIB
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Probolinggo Dr Heri Rifhan Halili. (antara)
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Probolinggo Dr Heri Rifhan Halili. (antara)

Ia mengungkapkan setidaknya ada tiga hal baru yang menjadi keunggulan dari buku ajar dan metode pembelajaran Al Quran usia dewasa karya pria yang juga aktif membina pengajian dan pembelajaran Al Quran di berbagai instansi ini.

Ketiga hal tersebut, adalah pada buku ajarnya menggunakan media peta konsep dan kosa kata Indonesia yang mengacu pada sebagian kaidah Arab Pegon, serta metode pembelajarannya yang mengacu pada prinsip Andragogi atau cara mengajar orang dewasa.

Media peta konsep yang digunakan berupa gambar-gambar yang memuat rumusan singkat kaidah bacaan Al Quran, sehingga orang dewasa bisa dengan mudah memahami dan mengingatnya.

Dengan peta konsep, orang dewasa juga bisa belajar sendiri di tengah kesibukan mereka, selain tetap melalui bimbingan guru mengaji di saat waktu luang mereka.

Sedangkan media kosa kata Indonesia dalam buku ajar yang disusun Rifhan mengacu pada Arab Pegon meski tidak semua kaidahnya digunakan, artinya dalam latihan-latihan bacaan di buku ajarnya dimasukkan kosa kata Indonesia yang ditulis dengan huruf Arab, untuk menjembatani kekeluan lidah orang dewasa dalam membaca huruf Arab, sehingga menjadi mudah dan menarik dipelajari.

Dari sisi metode pembelajarannya, Rifhan juga menyusun tahapan pembelajaran yang disingkat "MUDAHKAN", yaitu Motivasi, Ulangi pelajaran lama dan Uraikan pelajaran baru, Dibaca-Disimak-Diulang, Apresiasi yang sudah bisa, Hormati yang belum bisa, Konsepkan, Arahkan, dan Nilai atau Evaluasi bersama.

Buku ajar dan metode pembelajaran yang telah disusun tersebut, kemudian diterapkan dalam pembelajaran untuk mengetahui tingkat efektivitasnya.

Rifhan memilih tiga majelis ta’lim dalam penerapan pembelajarannya, yaitu kalangan militer di TNI AL Pusdikpel Kodikopsla Kodiklatal Surabaya, kalangan dokter dan tenaga kesehatan di RS Randegansari Husada Driyorejo Gresik, dan masayarakat umum di Majeli Ta’lim Ahludz Dzikri Sidoarjo.

“Saya memilih tiga tempat berbeda untuk melakukan uji coba buku dan metode pembelajaran Al Quran ini agar bisa mengakomodasi berbagai profesi dan latar belakang usia dewasa dalam belajar Al Quran. Alhamdulillah model pembelajaran baru ini lebih efektif sekitar 30 persen bila dibandingkan dengan model pembelajaran lama yang digunakan sebelumnya," tuturnya.

Atas penelitian dan karyanya ini, Rifhan akhirnya resmi menyandang gelar Doktor Pendidikan Agama Islam dengan predikat cumlaude di usia yang masih terbilang muda, yakni 33 tahun.

Halaman:

Editor: suroprapanca

Terkini

Jelang Nataru, MenPAN-RB Larang ASN Cuti Akhir Tahun

Minggu, 28 November 2021 | 13:30 WIB

Anies Baswedan Buka Suara Soal Sebutan Kadrun, Marah?

Jumat, 26 November 2021 | 22:30 WIB
X