• Senin, 27 September 2021

Pemerhati Minta Rencana Induk Digitalisasi Pendidikan Dimatangkan

- Senin, 2 Agustus 2021 | 19:40 WIB
Ilustrasi (antara)
Ilustrasi (antara)

INILAH, Bandung - Pemerhati pendidikan dari Vox Point Indonesia Indra Charismiadji meminta agar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) mematangkan rencana induk digitalisasi pendidikan.

“Lebih baik mengikuti jejak Singapura yang membuat perencanaan awal yang matang. Singapura sudah sejak 1997 membuat ICT Masterplan in Education sejak 1997,” ujar Indra di Jakarta, Senin.

Singapura, lanjut dia, besarnya hanya seperti satu kecamatan di Indonesia, hanya 300-an sekolah, tapi memiliki perencanaan digitalisasi pendidikan yang matang dan terukur dengan ICT Masterplan.

“Sementara kita yang memiliki 17.000 pulau dan 260.000 lebih sekolah serta 50 juta siswa, tidak memiliki perencanaan sama sekali. Singapura sekarang sudah masuk fase keempat dalam master plan tersebut dan di dalamnya lengkap bagaimana infrastruktur, infostruktur, dan infokulturnya. Kalau kita hanya fokus ke pengadaan laptopnya, tanpa ada kajian yang komprehensif, ya, siap-siap saja uang rakyat terbuang sia-sia,” kata dia.

Dia meminta agar Kemendikbduristek tidak mengikuti jejak Malaysia atau Thailand yang lebih mementingkan proyeknya daripada nilai manfaatnya. Malaysia gagal dengan proyek chromebook.

“Jangan sampai Indonesia masuk ke lubang yang sama, dengan menjalankan proyek yang sama di tengah pandemi Covid-19,” ujar dia.

Program digitalisasi pendidikan di Malaysia yakni 1Bestarinet menelan biaya hingga Rp14 triliun untuk menyediakan konektivitas internet dan menciptakan lingkungan belajar virtual pada 10.000 sekolah di Malaysia. Pengadaan laptop chromebook dan Learning Management System (LMS) menjadi bagian dari proyek itu.

“Saya kebetulan ikut bantu cuci piring di proyek itu di Malaysia. Infrastrukturnya disiapkan, Infostrukturnya disiapkan dengan LMS, tapi Infokulturnya tidak disentuh sama sekali. Laptop-laptop tersebut akhirnya banyak tidak digunakan karena guru tidak tahu cara memanfaatkannya dengan optimal," ujarnya.

Tim dia waktu itu terjun melatih dan mengimplementasikan lingkungan belajar virtual di sekolah-sekolah dasar kebangsaan China, ini juga karena orang tua mau membayar. Tidak terbayang apa yang terjadi dengan Indonesia yang hanya disiapkan laptop chromebook saja.

Halaman:

Editor: suroprapanca

Terkini

Polisi Siapkan Tes Antigen bagi Demonstran di KPK

Senin, 27 September 2021 | 11:19 WIB

Kirab Api PON XX Papua Dimulai dari Sorong Papua Barat

Senin, 27 September 2021 | 10:52 WIB

Digelar Hari Ini, Penonton Sepak Bola PON Papua Dibatasi

Senin, 27 September 2021 | 09:44 WIB

Kearifan lokal Nilai Jual Pariwisata Nasional

Senin, 27 September 2021 | 08:41 WIB
X