• Rabu, 8 Desember 2021

Setop Nyinyir! Muhammadiyah, NU dan MUI Bela Santri Tutup Telinga

- Jumat, 17 September 2021 | 07:30 WIB
Tangkapan layar para santri tutup telinga saat mendengar musik. (Instagram)
Tangkapan layar para santri tutup telinga saat mendengar musik. (Instagram)

INILAHKORAN, Bandung- Akhirnya Majelis Ulama Indonesia bersama Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan Pengurus Besar (PB) Nahdatul Ulama bersikap atas cibiran-cibiran terhadap para santri tutup telinga karena enggan mendengarkan musik.

Dalam beberapa hari terakhir, video santri tutup telinga dalam sebuah acara vaksinasi massal Covid-19, itu beredar luas di media sosial. Banyak yang menanggapi negatif aksi para santri tersebut.

"Kenapa harus usil harus ada komentar-komentar negatif, sah-sah saja orang menyukai musik atau tidak menyukai musik itu adalah urusan masing-masing," ujar Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad saat dihubungi, Kamis (16/9).

Baca Juga: Pengadaan Barang dan Jasa di Daerah Jadi Lahan Basah Pemburu Cuan, KPK Ingatkan Begini

"Di dunia ini tidak semua orang menyenangi musik, tidak semua orang menyukai hal-hal yang kesenian. Jadi kita harus menghormatilah kesenangannya, menghormati pada minat dan bakatnya," lanjut Dadang.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Marsudi Syuhud menyatakan tindakan para santri untuk menutup telinga adalah hanya perkara pilihan.

Menurutnya, hal yang biasa ketika seseorang mau mendengarkan musik atau tidak.

"Hidup itu pilihan. Pilihan-pilihan banyak. Orang makan aja banyak pilihan, ada singkong ada tempe."

"Begitu pula mau dengerin atau tidak dengerin, ya biasa saja."

"Mau ndengerin musik atau tidak, itu sebuah plihan," kata Marsudi Syuhud, dikutip dari tayangan YouTube TV One.

Baca Juga: Jokowi dan Anies Baswedan Tumbang, Jokowi dan Anies Terbukti Melawan Hukum

Sementara Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, M Ziyad, meminta masyarakat perlu melihat secara proporsional apakah betul para santri tutup telinga itu sekedar menghindari dari suara bisingnya musik atau menjaga konsentrasi hafalan Alquran.

“Saya sebagai pengajar dan membina anak Tahfizul Quran, memang anak-anak sedang dalam pendidikan Tahfizul Quran perlu perlakuan khusus, beda dengan anak-anak yang menghafal buku-buku lainnya. Satu di antaranya orang hafal Alquran, dia harus dijaga tingkat konsentrasinya,” ujarnya.

Diketahui, dalam video yang beredar dan dibagikan di sosial media, terlihat sekelompok orang yang disebut sebagai santri menutup kuping. Si perekam yang diduga merupakan guru atau ustaz menyebut bahwa mereka menutup telinga karena ada alunan musik di lokasi.

Baca Juga: Punya Aturan Ketat agar Tidak Terinfeksi Covid-19, Vladimir Putin Malah Harus Isolasi Mandiri, Kenapa?

Hal ini viral karena beberapa pegiat sosial seperti Denny Siregar sebagai salah satu yang memposting video ini, kemudian menulis narasi provokasi jika ia menjadi panitia di lokasi vaksin COVID-19, tersebut, akan memutar lagu lebih aliran yang lebih keras.

"Kalo gua petugasnya, langsung gua setelin mereka Metallica. "Exit light.. enter nightttt !" tulis Denny. ***

Halaman:

Editor: Bsafaat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

DPR Ketok Palu Sahkan RUU Kejaksaan Jadi Undang-Undang

Selasa, 7 Desember 2021 | 16:45 WIB

Semeru Kembali Muntahkan Awan Panas

Selasa, 7 Desember 2021 | 11:21 WIB

Harimau Kembali Muncul Hebohkan Warga Agam

Senin, 6 Desember 2021 | 22:15 WIB
X