• Kamis, 28 Oktober 2021

Biaya Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bengkak, Ichsanuddin Noorsy: Duitnya Mengalir ke Siapa?

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 08:26 WIB
Pengamat ekonomi politik Ichsanuddin Noorsy. (Twitter @IchsanuddinNoor)
Pengamat ekonomi politik Ichsanuddin Noorsy. (Twitter @IchsanuddinNoor)

INILAHKORAN, Bandung- Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung tak hanya meninggalkan bengkaknya biaya yang berarti utang negara ikut gede. Di kubu lain, China bisa jadi mengoleksi cuan besar.

Pengamat ekonomi politik, Ichsanuddin Noorsy, menyebut proyek sepur kilat Jakarta-Bandung yang digarap PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), jelas-jelas kemahalan. Apalagi di tengah perjalanan, biayanya mengalami bengkak sekitar Rp27 triliun dari Rp86 triliun menjadi Rp113 triliun.

"Menurut hitung-hitungan saya, proyek ini kemahalan. Sudah mahal nambah pula. Ini kan gawat," ungkap Noorsy saat berbincang dengan Inilah.com, Rabu 13 Oktober 2021.

Baca Juga: Rapor Merah Infrastruktur Jokowi: Dari Kertajati, LRT Palembang hingga Kereta Cepat Jakarta-Bandung 

Informasi saja, panjang lintasan kereta cepat jurusan Jakarta-Bandung mencapai 142,3 kilometer. Memiliki  empat stasiun pemberhentian yakni  Halim, Karawang, Walini dan Tegalluar. Ditambah 1 depo di Tegalluar.

"Karena punya empat stasiun, kereta ini menjadi tidak cepat lagi. Jadi dari aspek keterhubungan, ada masalah," ucapnya.

Selama pengerjaan konstruksi, menurut Noorsy, China mengeruk banyak cuan. Mulai dari keuntungan dari menjual utang. Untuk pembiayaan proyek, China Development Bank memberikan utangan kepada Indonesia dengan bunga 2%, tenor 10 tahun.

Baca Juga: PT KAI Pimpin Konsorsium Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Komisi V DPR RI Khawatir Muncul Masalah Baru

Awalnya, kebutuhan biaya diperkirakan US$5,5 miliar, kemudian naik menjadi US$6,1 miliar. Naik lagi menjadi US$8 miliar, atau sekitar Rp113,9 triliun.

"Keuntungan China selanjutnya dari jual teknologi. Ditambah keuntungan dari memindahkan penyusutan (amortisasi) menjadi beban Indonesia," ungkapnya.

Masih menurut Noorsy, industri China juga kebagian cuan dari proyek ini. Industri besi dan baja, perusahaan konstruksi, perusahaan konsultan hingga pekerja China. Ditambah lagi dari penggunaan kereta cepat generasi terbaru CR400AF.

"Tentunya pengadaan dan spare-partnya harus beli dari mereka. lagi-lagi pekerja China bakalan banyak," ungkapnya.

Ya, Noorsy benar. Karena biaya bengkak maka utang negara ikut bengkak. Di mana, 75% pembiayaan proyek keereta cepat berasal dari utang China Development Bank. Yang bunganya 2%, tenor 10 tahun.

Baca Juga: Proyek Kereta Cepat Bakal Diguyur Rp4,1 Triliun, Andre Rosiade: Katanya Janji Tidak Pakai APBN

Halaman:

Editor: Bsafaat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Heboh Pernyataan Gus Yaqut, Ini Kata Ketua Umum KNPI

Selasa, 26 Oktober 2021 | 11:56 WIB
X