Heboh Kasus LSM Peras Polisi Rp2,5 Miliar, Ternyata Begini Modusnya

Kasus dugaan LSM peras Polisi memunculkan fakta-fakta mengejutkan berdasarkan keterangan Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol Hengki Hariyadi.

Heboh Kasus LSM Peras Polisi Rp2,5 Miliar, Ternyata Begini Modusnya
Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol Hengki Hariyadi saat menjelaskan kasus dugaan LSM peras Polisi.

INILAHKORAN, Bandung- Kasus dugaan LSM peras Polisi Rp2,5 Miliar jadi sorotan publik. Sang pelaku kini sudah diamankan pihak berwajib.

Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol Hengki Hariyadi membeberkan fakta di balik dugaan kasus LSM peras Polisi Rp2,5 Miliar itu.

Menurut Kombes Pol Hengki Hariyadi, pelaku kasus LSM peras Polisi RP2,5 Miliar adalah Ketua Tameng Perjuangan Rakyat Anti Korupsi (Tamperak) berinisial KPN (36)

KPN telah memeras seorang anggota polri hingga mencapai Rp2,5 Miliar.

Baca Juga: Tusuk Paha Sopir Taksi Hingga Tewas, Tiga Orang Begal Sadis Diringkus Polisi

Atas perbuatanya, KPN diamankan polisi di Jalan Palem V, Kelurahan Petukangan Utara, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

"Pelaku yang diduga melakukan pemerasan terhadap anggota Polri awalnya meminta sampai Rp2,5 Miliar. Yang bersangkutan ini adalah Ketua DPP TAMPERAK," tutur Hengki Hariyadi seperti dikutip InilahKoran dari PMJNews, Selasa 23 November 2021.

Aksi pemerasan KPN tercium polisi saat dia mencoba meminta 'uang sogok' dari Anggota Satgas yang menangani kasus pembegalan terhadap seorang karyawati Basarnas, belum lama ini.

Menurut Hengki Hariyadi, dari kasus begal itu muncul pengembangan baru menuju kasus narkoba.

Baca Juga: Sempat Hebohkan Publik, Polisi Beberkan Kronologi Lengkap Kasus Yana Supriatna

Lanjut Hengki Hariyadi, lima orang pengguna narkoba akhirnya diringkus polisi tetapi empat diantaranya dikirim ke panti rehabilitasi.

Dari sinilah aksi bejat KPN mulai muncul. Dia menilai keputusan mengirim 4 pengguna narkoba ke panti rehabilitasi telah melanggar SOP (Standar Operasional Prosedur).

"Dianggap yang bersangkutan ini melanggar SOP. Dan terus dilakukan dengan membawa nama petinggi negara maupun TNI-Polri dengan tujuan untuk memperoleh sejumlah uang," ujarnya.

Dalam menjalankan aksinya, KPN sempat memberi ancaman melalui media elektronik.

Baca Juga: Dendam Persib Dibayar Tunai, Maung Ngora Kalahkan Persija U-18 dan Maju ke Semifinal Elite Pro Academy

KPN bahkan membawa-bawa kasus serupa di beberapa daerah untuk menakut-nakuti anggota Polri itu.

"Tidak ada suap-menyuap. Itu adalah anggota satgas kami dan ini justru menjadi korban pemerasan terhadap LSM itu," papar Hengki Hariyadi.

Hengki Hariyadi mengungkapkan, aksi pemerasan KPN ternyata juga dilakukan di berbagai instansi.

KPN pun kini dijerat Pasal 368 dan 369 KUHPidana dan atau pasal 27 ayat 4 Undang-Undang ITE.

Baca Juga: Persib Takluk Lawan Persija, Robert Alberts Sebut-sebut Victor Igbonefo dan Ezra Wallian

"Pelaku menakut-nakuti intansi pemerintah, TNI maupun Polri bisa melihat mendiskriditkan pimpinan TNI maupun Polri. Ternyata di balik itu yang bersangkutan melakukan pemerasan," pungkasnya.***


Editor : inilahkoran