• Rabu, 8 Desember 2021

Senjakala Komoditas Alam dan Sabda Energi Bersih

- Senin, 27 Mei 2019 | 15:30 WIB
Ilustrasi (Net)
Ilustrasi (Net)

Wajah neraca perdagangan bulan April lalu mengingatkan kembali ketergantungan Indonesia atas suplai alam sulit ditampik. Migas selalu menopang struktur belanja negara (APBN). Sebanyak 20 persen lebih dibuat sanggahan biaya pembangunan.

Lifting migas selalu diperhitungkan dalam asumsi dasar kelola anggaran. Meski terseok-seok mengikuti gejolak harga minyak global, penerimaan migas sejatinya terbilang melejit. 

Setahun lalu, pemasukan migas menembus Rp164 triliun. Bahkan diklasifikasikan sebagai sektor penyumbang PNBP terbesar. Tentu, ini berkat tangan dingin Pemerintah. Kendati, terbantu dengan harga global yang sempat rebound setelah anjlok USD27 per barel di awal tahun 2016. Titik terparah sepanjang 13 tahun terakhir. 

Pemerintah sadar menaruh migas sebagai komoditas strategis. Seiring meningkatnya konsumsi, 1,4 juta barel oil per day (bopd), Indonesia tak lagi menyandang net oil exportir. Pamit teratur dalam anggota OPEC.

Apakah ini kemunduran? Sebuah keniscayaan! Impor bukan hal haram. Penemuan minyak belum tuntas. Demand atas demografi besar tak kenal batas. Asal garis keputusan bisa selaras. Mampu menyerap harga di pasar internasional. 

Gerak sigap lain sudah dilakukan. Kebijakan hulu dibenahi. Antisipasi atas menipisnya cadangan migas. Sistem fiskal baru (Gross Split) hadir. Membenahi ketidakjelasan aturan lama (Cost Recovery) yang berada di titik nadir. 

Sistem lama merongrong keuangan negara. Bayangkan, tahun 2016 kantong negara menipis. Penerimaannya lebih seret. Pengeluaran membengkak sampai USD11,5 miliar. Senasib dengan setahun sebelumnya. Fiskal lama membentuk rezim boros. Minim efisiensi.  

Dulu, pembagian split dan biaya operasi kerap jadi pangkal persoalan. Di sinilah kejeniusan Pemerintah membaca siasat ‘kalkulasi’. Dalam gross split tak muncul lagi dispute cost.

Negara minim risiko operasi. Tapi kendali, penentuan wilayah kerja, kapasitas produksi dan lifting hingga pembagian hasil negara masih punya kuasa.

Halaman:

Editor: suroprapanca

Terkini

Sikap Kami: Anies-Emil, Oke!

Selasa, 30 November 2021 | 10:51 WIB

Sikap Kami: Gimik Politik

Senin, 29 November 2021 | 09:39 WIB

Sikap Kami: Sami Sade Mengindonesia

Kamis, 25 November 2021 | 11:32 WIB

Urgensi Perubahan RTRW Jabar

Rabu, 24 November 2021 | 14:42 WIB

Sikap Kami: Euforia Mandalika

Selasa, 23 November 2021 | 15:45 WIB

Sikap Kami: Ini Bukan Prank

Selasa, 23 November 2021 | 15:41 WIB

Sikap Kami: Panas ke Gedung Sate

Rabu, 17 November 2021 | 08:30 WIB

Sikap Kami: Biskita, Biskuat, Bus Siapa?

Rabu, 3 November 2021 | 12:45 WIB

Sikap Kami: Siaga La Nina

Rabu, 3 November 2021 | 10:48 WIB

Sikap Kami: Sesat Pikir si Menteri

Selasa, 26 Oktober 2021 | 08:04 WIB

Sikap Kami: Bogor Barat, Apa Kabar?

Senin, 25 Oktober 2021 | 05:15 WIB

Sikap Kami: Durian Runtuh Jabar

Jumat, 22 Oktober 2021 | 06:05 WIB

Sikap Kami: Kultur Bonus

Rabu, 20 Oktober 2021 | 09:35 WIB

Sikap Kami: Ironi Atlet

Kamis, 14 Oktober 2021 | 09:38 WIB

Sikap Kami: Juara Lahir Batin di Papua

Rabu, 13 Oktober 2021 | 17:50 WIB

Sikap Kami: Tentang Survei Emil

Selasa, 12 Oktober 2021 | 12:07 WIB

Sikap Kami: PPKM yang Membingungkan

Rabu, 6 Oktober 2021 | 12:02 WIB

Sikap Kami: Tak Tembak Kamu!

Selasa, 5 Oktober 2021 | 06:00 WIB

Sikap Kami: Berkaca dari Papua

Senin, 4 Oktober 2021 | 09:28 WIB
X