• Kamis, 23 September 2021

Teknologi Informasi versus Sumber Daya Manusia

- Rabu, 19 Juni 2019 | 12:30 WIB
Ilustrasi (Net)
Ilustrasi (Net)

Dimulai dari sekitar tahun 2000, Teknologi Informasi (TI) berkembang sangat pesat bahkan bisa juga dibilang booming di Indonesia. Perkembangan yang sangat pesat tersebut penulis menyebutnya dengan percepatan perkembangan TI.

Kenapa disebut percepatan? dan bukan kecepatan? Karena hampir setiap 3 bulan sekali muncul produk-produk TI terbaru, seterusnya bisa lebih cepat lagi dan dengan perkembangan yang lebih banyak bentuk, ragam, dan kegunaannya.

Bisa dibayangkan, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer semester 1 akan segera usang (expired) ilmunya pada semester 3 (dengan asumsi apabila mereka tidak mau up date dirinya).

Semua perusahaan dan organisasi yang bergerak di bidang TI seperti tidak mau ketinggalan dalam memunculkan produk-produk baru yang lebih mudah, murah, dan ramah dengan pemakainya serta menyenangkan (fun).

Tentu saja, mereka berlomba-lomba dan saling menginformasikan bahwa produk mereka adalah yang paling familier. Padahal selama ini, pola pikir sebagian masyarakat menyatakan, bahwa TI termasuk hal yang rumit, ribet, serta memerlukan waktu yang lama untuk menguasainya.

Dan, memerlukan modal yang besar, walaupun kita tahu pola pikir seperti ini tidak salah-salah amat tapi juga sayangnya tidak betul-betul amat. Kenapa mereka mempunyai pola pikir begitu? Ini tidak lain karena disebabkan oleh para pengguna sendiri (user).

Pengguna terkadang tidak menggunakan gawai sesuai kebutuhannya, tapi lebih kepada keinginannya. Sebagai contoh bagi mereka yang hanya perlu komunikasi sebenarnya tidak perlu gawai yang dikenal dengan smartphone.

Tapi, karena gencarnya promosi serta harga yang sekarang lebih terjangkau dan merasa terangkatnya gengsi ketika menggunakannya, maka akhirnya mereka membeli smartphone tadi.

Setelah mereka beli, baru mereka merasakan ribet dan rumitnya sang smartphone. Gawai yang dikenal dengan smartphone itu memang seharusnya buat yang smart people.

Halaman:

Editor: suroprapanca

Terkini

Sikap Kami: Bersyukur PTM, Tapi….

Kamis, 23 September 2021 | 11:00 WIB

Sikap Kami: Pikiran Miring Giring

Rabu, 22 September 2021 | 10:35 WIB

Sikap Kami: Mahalnya Cipta Kerja

Minggu, 19 September 2021 | 22:31 WIB

Sikap Kami: PON Salah Arah

Kamis, 16 September 2021 | 10:57 WIB

Sikap Kami: Nonton di Bioskop Cirebon

Rabu, 15 September 2021 | 10:04 WIB

Sikap Kami: Hipokritisme Pelaku Korupsi

Selasa, 14 September 2021 | 08:28 WIB

Sikap Kami: Karena Kita Bukan Wapres

Jumat, 10 September 2021 | 11:40 WIB

Sikap Kami: Tak Serius Urus Lapas

Kamis, 9 September 2021 | 11:13 WIB

Sikap Kami: Berbelok di Tengah Jalan

Rabu, 8 September 2021 | 09:09 WIB

Sikap Kami: Holywings 60 Menit

Selasa, 7 September 2021 | 08:57 WIB

Sikap Kami: Mual Gara-gara Survei

Senin, 6 September 2021 | 08:19 WIB

Sikap Kami: Persib di Kompetisi Aneh

Jumat, 3 September 2021 | 09:53 WIB

Sikap Kami: Pemimpin yang Tak Diinginkan

Kamis, 2 September 2021 | 11:09 WIB

Sikap Kami: Membaca Data Corona

Rabu, 1 September 2021 | 13:59 WIB

Sikap Kami: 'Surga' Kita, Rumah Kita

Selasa, 31 Agustus 2021 | 12:00 WIB

Sikap Kami: Masih Perlukah PPKM?

Senin, 30 Agustus 2021 | 12:00 WIB

Sikap Kami: Menangislah Cimahi

Jumat, 27 Agustus 2021 | 17:15 WIB

Sikap Kami: Imunitas di Pengadilan

Rabu, 25 Agustus 2021 | 11:05 WIB

Sikap Kami: 404 : Not Found

Senin, 23 Agustus 2021 | 11:10 WIB

Sikap Kami: Robin Hood Salah Jalan

Kamis, 19 Agustus 2021 | 13:20 WIB
X