• Rabu, 22 September 2021

Resensi Film: Lukanya Batin Gundala dan Rating Joko Anwar

- Minggu, 8 September 2019 | 19:30 WIB
Ilustrasi (Antara)
Ilustrasi (Antara)

INILAH, Jakarta -  Ada sesuatu yang tersembunyi di balik film Gundala karya terbaru sutradara Joko Anwar, padahal hal tersembunyi itu sesuatu yang penting. Oleh sebab itu, untuk dapat membaca film ini secara utuh, sesuatu yang tersembunyi tersebut perlu dibeberkan.

Sebagian besar penonton film Gundala akan melulu melihat film ini merupakan sebuah film penuh kekerasan fisik. Ini tidak salah.

Dari awal sampai akhir film memang berisi kekejaman, penganiayaan, siksaan, perkelahian dan pembunuhan. Kendati demikian, di balik begitu banyak kekerasan fisik, sebenarnya, film ini juga merupakan film kekerasan batin yang sangat mengiris dan menyayat.

Justru kekerasan batin inilah yang dihadirkan lebih luluh lantak, dan dari kacamata ini, luka batin yang sedemikian nyerinya, lebih  “mengerikan” dibanding dengan berbagai kekerasan fisik yang menyertainya.

Sejak kecil Sancaka (Muzakki Ramdhan) hidup dalam luka batin yang dalam. Jiwanya mengalami teror kekerasan yang luar biasa.

Ayahnya (Rio Dewanto) yang dijadikan panutan, selalu mengajarkan,”Kalau ada ketidakadilan dan kita diam saja, kita bukan manusia lagi!” Nilai-nilai yang ditularkan dari “idolanya” ini, bersemayam kuat di hati Sancaka kecil.

Di lain pihak, Awang (Faris Fadjar), yang menolong dan menyelamatkan nyawanya, justru mengajarkan sebaliknya. ”Loe jangan suka ikut campur urusan orang lain, nanti loe jadi susah.”

Dua “filosofi” yang bertentangan ini, membuatnya menjadi manusia yang labil. Ini membuat selama hidup Gundala (Abimana Aryasatya) atau Sancaka dewasa, lebih menyiksa ketimbang hajaran fisik yang menerpanya.

Sebelumnya, jiwa Sancaka sudah lebih dahulu dihajar kekerasan. Dia melihat dengan matanya, sang ayah terbunuh. Tapi waktu itu, bukan fisik Sancaka yang terkena kekerasan, tapi batin Sancakalah yang terhantam kekerasan dahsyat.

Halaman:

Editor: suroprapanca

Terkini

Sikap Kami: Mahalnya Cipta Kerja

Minggu, 19 September 2021 | 22:31 WIB

Sikap Kami: PON Salah Arah

Kamis, 16 September 2021 | 10:57 WIB

Sikap Kami: Nonton di Bioskop Cirebon

Rabu, 15 September 2021 | 10:04 WIB

Sikap Kami: Hipokritisme Pelaku Korupsi

Selasa, 14 September 2021 | 08:28 WIB

Sikap Kami: Karena Kita Bukan Wapres

Jumat, 10 September 2021 | 11:40 WIB

Sikap Kami: Tak Serius Urus Lapas

Kamis, 9 September 2021 | 11:13 WIB

Sikap Kami: Berbelok di Tengah Jalan

Rabu, 8 September 2021 | 09:09 WIB

Sikap Kami: Holywings 60 Menit

Selasa, 7 September 2021 | 08:57 WIB

Sikap Kami: Mual Gara-gara Survei

Senin, 6 September 2021 | 08:19 WIB

Sikap Kami: Persib di Kompetisi Aneh

Jumat, 3 September 2021 | 09:53 WIB

Sikap Kami: Pemimpin yang Tak Diinginkan

Kamis, 2 September 2021 | 11:09 WIB

Sikap Kami: Membaca Data Corona

Rabu, 1 September 2021 | 13:59 WIB

Sikap Kami: 'Surga' Kita, Rumah Kita

Selasa, 31 Agustus 2021 | 12:00 WIB

Sikap Kami: Masih Perlukah PPKM?

Senin, 30 Agustus 2021 | 12:00 WIB

Sikap Kami: Menangislah Cimahi

Jumat, 27 Agustus 2021 | 17:15 WIB

Sikap Kami: Imunitas di Pengadilan

Rabu, 25 Agustus 2021 | 11:05 WIB

Sikap Kami: 404 : Not Found

Senin, 23 Agustus 2021 | 11:10 WIB

Sikap Kami: Robin Hood Salah Jalan

Kamis, 19 Agustus 2021 | 13:20 WIB

Mental Cuan

Kamis, 12 Agustus 2021 | 20:10 WIB

Sikap Kami: Nggak Pakai Pasir

Jumat, 6 Agustus 2021 | 10:00 WIB
X