• Selasa, 7 Desember 2021

(Sikap Kami) Gubernur ‘Rasa’ Presiden

- Senin, 24 Februari 2020 | 15:40 WIB

PEMILIHAN Presiden baru akan berlangsung empat tahun lagi. Joko Widodo-Maruf Amin saja baru 100 hari lebih sedikit bekerja. Tapi, sudah ada yang mulai memetakan kekuatan calon pemimpin setelah duet ini berakhir.

Perusahaan survei Indo Barometer, misalnya, baru saja merilis kandidat potensial dari unsur kepala daerah. Sementara, Anies Baswedan (Gubernur) DKI Jakarta unggul dalam hal dukungan dan keterkenalan. Untuk urusan pengenalan, Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat) menjadi pesaing terdekat Anies.

Kenapa kepala daerah? Kita menebak karena unsur kepala daerah merupakan salah satu sumber kepemimpinan nasional ke depan. Ini patut kita dukung agar kantong-kantong pemimpin ke depan tak hanya didominasi politisi-politisi di pusat ibu kota Indonesia saja.

Tentu, hasil survei ini hanya bisa jadi gambaran. Tak bisa dipegang empat tahun ke depan. Sebab, politik itu demikian dinamisnya. Banyak faktor-faktor lain yang menentukan, termasuk dua hal ini: dukungan parpol dan dukungan pemodal.

Tapi, hasil survei ini sah-sah saja dijadikan gambaran awal bagi kepala daerah yang disebut-sebut memiliki peluang. Waktu masih panjang, masih 3-4 tahun lagi. Jika memang ada keinginan –bukan nafsu besar—jadi pemimpin nasional, sudah bisa mengambil ancang-ancang.

Yang perlu dijaga tentu adalah mempertahankan kesan yang baik, kinerja yang maksimal, menjalin jaringan, dan tentu saja berdoa. Tidak perlu pula menjaga citra dengan cara yang aneh-aneh: memelihara buzzer-buzzer nyinyir, sembunyi-sembunyi melakukan turba ke pelosok Indonesia, atau masuk gorong-gorong, misalnya, ketika tak seharusnya masuk ke dalamnya.

Lakukan saja semuanya sebagaimana menjalankan tugas kepala daerah sewajarnya. Berbuat untuk kemajuan daerah. Tak perlu dibuat-buat, tak usah dibikin-bikin.

Satu yang kita ingatkan adalah bahwa kepala daerah bergerak dan beroperasi menggunakan anggaran pemerintah. Karena itu, sepatut-patutnya dana rakyat itu digunakan sepenuhnya untuk kepentingan warga di wilayahnya.

Bahwa kemudian ada implikasi positif secara politis terhadap hasil kerja mereka membangun daerah, maka anggaplah itu sebagai bonus. Namanya bonus, tentu bukan hal yang utama, meski tetap sesuatu yang menggiurkan. (*)
 

Halaman:

Editor: Bsafaat

Terkini

Sikap Kami: Anies-Emil, Oke!

Selasa, 30 November 2021 | 10:51 WIB

Sikap Kami: Gimik Politik

Senin, 29 November 2021 | 09:39 WIB

Sikap Kami: Sami Sade Mengindonesia

Kamis, 25 November 2021 | 11:32 WIB

Urgensi Perubahan RTRW Jabar

Rabu, 24 November 2021 | 14:42 WIB

Sikap Kami: Euforia Mandalika

Selasa, 23 November 2021 | 15:45 WIB

Sikap Kami: Ini Bukan Prank

Selasa, 23 November 2021 | 15:41 WIB

Sikap Kami: Panas ke Gedung Sate

Rabu, 17 November 2021 | 08:30 WIB

Sikap Kami: Biskita, Biskuat, Bus Siapa?

Rabu, 3 November 2021 | 12:45 WIB

Sikap Kami: Siaga La Nina

Rabu, 3 November 2021 | 10:48 WIB

Sikap Kami: Sesat Pikir si Menteri

Selasa, 26 Oktober 2021 | 08:04 WIB

Sikap Kami: Bogor Barat, Apa Kabar?

Senin, 25 Oktober 2021 | 05:15 WIB

Sikap Kami: Durian Runtuh Jabar

Jumat, 22 Oktober 2021 | 06:05 WIB

Sikap Kami: Kultur Bonus

Rabu, 20 Oktober 2021 | 09:35 WIB

Sikap Kami: Ironi Atlet

Kamis, 14 Oktober 2021 | 09:38 WIB

Sikap Kami: Juara Lahir Batin di Papua

Rabu, 13 Oktober 2021 | 17:50 WIB

Sikap Kami: Tentang Survei Emil

Selasa, 12 Oktober 2021 | 12:07 WIB

Sikap Kami: PPKM yang Membingungkan

Rabu, 6 Oktober 2021 | 12:02 WIB

Sikap Kami: Tak Tembak Kamu!

Selasa, 5 Oktober 2021 | 06:00 WIB

Sikap Kami: Berkaca dari Papua

Senin, 4 Oktober 2021 | 09:28 WIB
X