• Rabu, 8 Desember 2021

Sindang Mardika, Kearifan Lokal atas Ancaman Wabah di Bangka

- Jumat, 27 Maret 2020 | 23:10 WIB
Ilustrasi (Antara)
Ilustrasi (Antara)

INILAH, Mentok, Babel - Pada masa awal pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin (1758-1777 M), Bangka di bawah Kesultanan Palembang Darussalam semakin ramai dengan pembukaan penambangan timah Bangka yang berhasil.

Pemimpin atas Bangka di Mentok, Wan Akub yang bergelar Datuk Rangga Setia Agama, meninggal dan digantikan Rangga bernama Wan Usman. Wan Usman diangkat oleh Sultan sebagai Rangga atau kepala pemerintahan dari sekalian tanah Bangka. Jabatan Rangga sama dengan kedudukan menteri di Palembang dengan gelar Datuk Aji Rangga Usman serta dikaruniai satu kopiah emas, satu keris, empat tombak dan satu tepak tanda sebagai Kepala Tanah Bangka.

Pada masa pelantikan Rangga Usman, Sultan memanggil semua patih dan batih pesirah tanah Bangka untuk memberikan mandat kepada Rangga (10 perkara/ketentuan) dan Batin Pesirah, Batin Pegandang dan Batin Kecil (45 perkara/ketentuan). Ketentuan tersebutlah yang kemudian disebut "Sindang Mardika", sebuah hukum yang berlaku bagi seluruh tanah Bangka.

Sindang Mardika bersumber dari aturan adat Bangka yang telah ada kemudian diperbaharui dan ditambah sesuai dengan aturan yang berlaku di Kesultanan Palembang Darussalam.

Sindang Mardika yang pernah diterapkan di Pulau Bangka lebih 200 tahun yang lalu, tampaknya menarik untuk dimaknai kembali terkait kondisi saat ini di mana dunia sedang dalam ancaman virus corona (Covid-19).

Sepuluh perkara (ketentuan) kepada Rangga dan 45 perkara (ketentuan) yang berlaku untuk Batin Pesirah, Batin Pegandang, dan Batin Kecil di seluruh tanah Bangka, cukup luas dan lengkap mengatur perihal kehidupan masyarakat pada saat itu.

Salah satu ketentuan yakni pada perkara ke-36, disebutkan "andainya ada penyakit keras atau sebab binatang buas di dalam kampung, maka itu kampung belum sampai itu perkara, maka itu kampung yang belum kena penyakit diberi tanda satu kayu yang terkupas di tengah jalan atau di tengah hutan yang mau masuk di kampungnya supaya jangan orang kampung yang punya penyakit masuk ke dalam dia punya kampung. Dan begitu juga jikalau melanggar segala kepercayaan atau pantangan yang kecil-kecil dari dia punya adat maka kena denda 4 sampai 40 ringgit terbagi kepada segala orang yang di dalam kampung".

Ketentuan di atas menunjukkan betapa 200 tahun yang lalu di Pulau Bangka telah mengenal sistem "lockdown" atau karantina wilayah yang saat ini menjadi viral diterapkan hampir di seluruh dunia dalam upaya pencegahan virus corona.

Pemahaman dan pengetahuan pemimpin dan masyarakat lokal di Pulau Bangka sudah cukup tinggi untuk mengerti bahwa mengisolasi wilayah untuk kepentingan bersama dalam beberapa waktu, adalah bagian dari upaya pertahanan komunal dari ancaman baik wabah maupun binatang buas yang berbahaya.

Halaman:

Editor: suroprapanca

Terkini

Sikap Kami: Anies-Emil, Oke!

Selasa, 30 November 2021 | 10:51 WIB

Sikap Kami: Gimik Politik

Senin, 29 November 2021 | 09:39 WIB

Sikap Kami: Sami Sade Mengindonesia

Kamis, 25 November 2021 | 11:32 WIB

Urgensi Perubahan RTRW Jabar

Rabu, 24 November 2021 | 14:42 WIB

Sikap Kami: Euforia Mandalika

Selasa, 23 November 2021 | 15:45 WIB

Sikap Kami: Ini Bukan Prank

Selasa, 23 November 2021 | 15:41 WIB

Sikap Kami: Panas ke Gedung Sate

Rabu, 17 November 2021 | 08:30 WIB

Sikap Kami: Biskita, Biskuat, Bus Siapa?

Rabu, 3 November 2021 | 12:45 WIB

Sikap Kami: Siaga La Nina

Rabu, 3 November 2021 | 10:48 WIB

Sikap Kami: Sesat Pikir si Menteri

Selasa, 26 Oktober 2021 | 08:04 WIB

Sikap Kami: Bogor Barat, Apa Kabar?

Senin, 25 Oktober 2021 | 05:15 WIB

Sikap Kami: Durian Runtuh Jabar

Jumat, 22 Oktober 2021 | 06:05 WIB

Sikap Kami: Kultur Bonus

Rabu, 20 Oktober 2021 | 09:35 WIB

Sikap Kami: Ironi Atlet

Kamis, 14 Oktober 2021 | 09:38 WIB

Sikap Kami: Juara Lahir Batin di Papua

Rabu, 13 Oktober 2021 | 17:50 WIB

Sikap Kami: Tentang Survei Emil

Selasa, 12 Oktober 2021 | 12:07 WIB

Sikap Kami: PPKM yang Membingungkan

Rabu, 6 Oktober 2021 | 12:02 WIB

Sikap Kami: Tak Tembak Kamu!

Selasa, 5 Oktober 2021 | 06:00 WIB

Sikap Kami: Berkaca dari Papua

Senin, 4 Oktober 2021 | 09:28 WIB
X