• Minggu, 22 Mei 2022

Sindang Mardika, Kearifan Lokal atas Ancaman Wabah di Bangka

- Jumat, 27 Maret 2020 | 23:10 WIB
Ilustrasi (Antara)
Ilustrasi (Antara)

Lihatlah Bangka hari ini. Seberapa efektif imbauan pemerintah dipatuhi oleh warga masyarakat? Imbauan pencegahan preventif untuk tidak berkumpul yang telah dikeluarkan ternyata tidak serta merta diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat.

Di beberapa peristiwa masih ditemukan kegiatan berkumpul di tempat publik, piknik ke pantai, bahkan spanduk imbauan (di beberapa tempat publik) pun hilang oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.

Menurut saya, kecenderungan tingkat kepatuhan orang di Pulau Bangka berada di bawah kepatuhan orang di Pulau Jawa. Tingkat kepatuhan sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan kepercayaan masyarakat kepada otoritas publik (pemerintah).

Mungkin hal ini yang dapat menjadi potret mengapa masyarakat Jawa lebih patuh atas perintah Sultan (kasus di Yogyakarta) yang memang telah memiliki pengaruh sejak ratusan tahun memerintah di sana. Investasi atas nilai "trust" sosial yang ternyata bermanfaat pada masa-masa krisis seperti ini.

Sistem produksi ekonomi masyarakat agraris juga memberi dampak baik bagi pengalaman berorganisasi secara komunal serta bereaksi patuh atas himbauan penguasa.

Berbeda dengan Pulau Bangka sejak era penambangan timah massal yang bekerja dengan sistem buruh/shift, bersifat industrialisasi. Menyisakan sedikit masyarakat berkebun dengan kearifan lokalnya yang semakin tergerus. Padahal pada kondisi seperti saat ini dibutuhkan sebuah kerja sama yang solid dan efektif.

Kepemimpinan terpercaya dan informasi yang valid dan akurat, dan manajemen sosial yang dipatuhi. Dalam perjalanan sejarah, otoritas publik yang dipercaya oleh masyarakatnya, kelompok ahli yang mampu secara cepat menawarkan solusi, dan jaminan keteraturan menjadi syarat untuk melalui masa sulit seperti ini.

Mari berspekulasi

Negatif saja dulu. Jika kondisi ini terus berjalan dengan tidak ada kontrol sosial dengan manajemen yang baik, ketika tidak ada kepercayaan atas otoritas publik, kerja sama yang baik, dan informasi yang akurat, dampak umum adalah terjadi kekhawatiran berlebih, panik, lalu sporadis, dan menjadi anarkis.

Wabah tak tertanggulangi dengan sistematis, kondisi sosial hancur (tanpa informasi yang valid dan akurat masyarakat menjadi mudah berprasangka, hoaks merajalela, bibit permusuhan atas konflik horizontal mudah terbuka), logistik (sembako) langka, memunculkan spekulan yang memanfaatkan kondisi krisis, pemerintahan memiliki legitimasi yang semakin rendah. Chaoslah sudah.

Halaman:

Editor: suroprapanca

Terkini

Sikap Kami: Vatikan

Kamis, 19 Mei 2022 | 12:55 WIB

Sikap Kami: Yang Kurang dari PPDB

Kamis, 19 Mei 2022 | 11:43 WIB

Sikap Kami: Anies-Emil dan Demokrasi Absurd

Selasa, 10 Mei 2022 | 12:15 WIB

Sikap Kami: Tergila-gila WTP

Kamis, 28 April 2022 | 14:11 WIB

Sikap Kami: Don’t Change BJB Team

Selasa, 26 April 2022 | 22:34 WIB

Sikap Kami: Kartu Sakti Apa Lagi, Pak Jokowi?

Selasa, 26 April 2022 | 15:05 WIB

Sikap Kami: Ada Wilmar di Persis Solo

Jumat, 22 April 2022 | 16:39 WIB

Sikap Kami: Jebol Gadis

Kamis, 21 April 2022 | 13:11 WIB

Sikap Kami: 'Perjudian' Yana Mulyana

Senin, 18 April 2022 | 14:06 WIB

Sikap Kami: Ade Armando

Rabu, 13 April 2022 | 12:32 WIB

Sikap Kami: Persib 'Salah Obat'

Kamis, 7 April 2022 | 12:15 WIB

Sikap Kami: Juara BPD, Juara Proliga

Senin, 28 Maret 2022 | 22:45 WIB

Sikap Kami: Jadi Petani, Siapa Takut?

Jumat, 25 Maret 2022 | 14:11 WIB

Sikap Kami: Noel dan 'Dosa' BUMN

Kamis, 24 Maret 2022 | 12:03 WIB

Sikap Kami: Negara Pura-pura

Jumat, 18 Maret 2022 | 06:00 WIB

Sikap Kami: Politisi Bebal

Kamis, 17 Maret 2022 | 11:38 WIB

Sikap Kami: Makna Bank BJB

Rabu, 9 Maret 2022 | 11:00 WIB

Tetap Lindungi Keluarga di Tengah Pandemi Melanda

Senin, 28 Februari 2022 | 21:48 WIB
X