• Kamis, 27 Januari 2022

Sindang Mardika, Kearifan Lokal atas Ancaman Wabah di Bangka

- Jumat, 27 Maret 2020 | 23:10 WIB
Ilustrasi (Antara)
Ilustrasi (Antara)

Sejarah Nusantara memaparkan sejarah panjang atas kejatuhan dan keruntuhan kejayaan kerajaan-kerajaan masa lalu atas kesalahan manajemen dan tak ada lagi yang mampu kembali berjaya.

Kalau kacamata negatif terlalu menakutkan dan suram, mari kita bersama menggunakan kacamata positif. Wabah ini segera ditemukan anti virusnya, maka akan mereda dengan sendirinya.

Proses isolasi berjalan efektif dan tidak memakan waktu berlarut, sehingga ekonomi regional dan nasional tidak di tahap runtuh.

Berharap kepada para ilmuwan, para ahli yang menjadi pahlawan atas masa krisis ini. Seperti penemuan-penemuan terdahulu yang mampu meredakan penyakit pes (Black Dead di Eropa), influenza, dan sebagainya.

Berharap juga para para ekonom dan pelaku ekonomi nasional mampu menempuh strategi pemulihan yang jenius sehingga produktivitas nasional menjadi pulih.

Berharap anggaran pemerintah mampu melakukan proses pemulihan kesehatan secara nasional dengan tidak berhutang terlalu banyak. Pun masa ini tetap memakan dana, waktu dan biaya sosial.

Jika kacamata positif yang akan digariskan Tuhan kepada kita, pun masih membutuhkan manajemen yang efektif dan efisien. Yang diatur dan dikelola ini adalah manusia, dengan segala karakter dan pilihan perilaku masing-masing.

Mengais-ngais data sejarah dan budaya Nusantara memberikan manfaat bagi saya untuk berefleksi atas banyak peristiwa di masa lampau dan sebagian berguna bagi kita yang hidup di masa sekarang.

Pulau Bangka berkali-kali menderita akibat wabah penyakit. Cerita Sultan Ratu Mahmud Badarudin I (pada awal abad 18) yang memerintahkan dukun dan pengiringnya membuat obat masyarakat Belinyu yang diserang penyakit menular, wabah penyakit cacar yang menyerang seluruh tanah Bangka pada masa Temenggung Kertamenggala (Abang Ismail), adalah jejak dari peristiwa di masa lalu atas serangan wabah penyakit di Pulau Bangka.

Perkara ke-36; "Pengangkat Tempoh" dalam "Sindang Mardika" adalah aturan yang dibuat dan diberlakukan di seluruh Pulau Bangka. Upaya preventif untuk mencegah penularan semakin meluas, memastikan aturan yang tegas bagi yang melanggarnya dengan denda, dilaksanakan dengan kewenangan yang melekat bagi pemimpin lokal (Batin) pada saat itu.

Halaman:

Editor: suroprapanca

Terkini

Sikap Kami: Tempat Jin Buang Anak

Rabu, 26 Januari 2022 | 10:48 WIB

Sikap Kami: Ali Sadikin

Selasa, 25 Januari 2022 | 11:50 WIB

Sikap Kami: Langkah Keledai

Senin, 24 Januari 2022 | 10:29 WIB

Sikap Kami: Ganti Anggota DPR, Pak!

Kamis, 20 Januari 2022 | 10:54 WIB

Sikap Kami: Kumaha Aing

Rabu, 19 Januari 2022 | 12:00 WIB

Sikap Kami: Pendidikan yang Tercabik

Senin, 17 Januari 2022 | 10:25 WIB

Sikap Kami: Bahlul

Selasa, 11 Januari 2022 | 12:50 WIB

Sikap Kami: Predator Seks di Sekitar Kita!

Jumat, 7 Januari 2022 | 08:46 WIB

Sikap Kami: Kompetisi Tak Pernah Bohong!

Senin, 3 Januari 2022 | 05:35 WIB

Sikap Kami: Tukang Survei

Kamis, 30 Desember 2021 | 11:57 WIB

Sikap Kami: Demo? Ke Jakarta Saja!

Rabu, 29 Desember 2021 | 12:57 WIB

Sikap Kami: Pidato Sampah Giring

Kamis, 23 Desember 2021 | 21:52 WIB

Sikap Kami: Degradasi Simbol Negara

Kamis, 23 Desember 2021 | 13:05 WIB

Sikap Kami: Asa dari Desa

Rabu, 22 Desember 2021 | 06:00 WIB

Sikap Kami: Atalia

Selasa, 14 Desember 2021 | 06:10 WIB

Sikap Kami: Anies-Emil, Oke!

Selasa, 30 November 2021 | 10:51 WIB

Sikap Kami: Gimik Politik

Senin, 29 November 2021 | 09:39 WIB

Sikap Kami: Sami Sade Mengindonesia

Kamis, 25 November 2021 | 11:32 WIB

Urgensi Perubahan RTRW Jabar

Rabu, 24 November 2021 | 14:42 WIB

Sikap Kami: Euforia Mandalika

Selasa, 23 November 2021 | 15:45 WIB
X