• Kamis, 23 September 2021

Sikap Kami: Soal Kita Bukan Normalitas Baru

- Kamis, 28 Mei 2020 | 06:00 WIB

PERSOALAN utama kita bukanlah pada apakah tatanan normal baru itu sebuah kebijakan pelonggaran, relaksasi, atau adaptasi. Masalah utama kita adalah bagaimana kita mematuhi dan menegakkan regulasi.

Begitulah pandangan kita terhadap apa yang disebut pemerintah sebagai penerapan new normal; normal baru, normalitas baru, atau tatanan normal baru. Buat kita, kebijakan atau aturan apapun yang diambil, sepanjang pelaksanaannya tak baik, ya tetap hasilnya tidak baik.

Kita beruntung, pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dua periode di Jabar (di beberapa kabupaten/kota bahkan sampai tiga periode), membuahkan hasil. Dalam seminggu terakhir, hanya ada 281 tambahan pasien positif baru. Rata-rata sehari 40 pasien. Angka reproduksi hanya 1,09.

Yang sembuh pun naik signifikan. Seminggu terakhir ada 130 pasien sembuh. Rata-rata sehari 18,5 orang. Dua hari terakhir, jumlah pasien sembuh bahkan lebih tinggi dibanding terpapar baru.

Padahal, kita dalam kenyataannya, tidak “sepenuh hati” menyelenggarakan PSBB. Tak percaya? Tengoklah titik-titik periksa (cek poin) selama PSBB, tak semuanya terkawal ketat petugas. Pada saat-saat tertentu, titik periksa itu bahkan kosong.

Tak melulu salah petugas. Salah masyarakat pun tiada sedikit. Pada ujung PSBB tahap pertama, pengemudi sepeda motor berboncengan bukanlah pandangan aneh buat kita di jalur-jalur yang memiliki titik periksa.

Betapa rendahnya kesadaran warga kita kian terbukti pada apa yang terjadi di Pasar Antri Cimahi –hanya untuk menyebut satu lokasi. Pasar diserbu warga hanya untuk persialan lebaran. Hal serupa terjadi di banyak tempat, dari Garut hingga Sukabumi.

Mau bukti lain? Simak pula informasi betapa banyak warga di kabupaten/kota di Jawa Barat yang tertahan tak bisa kembali ke Jakarta atau Bandung hari-hari ini. Mereka bisa menembus jalur mudik –kegiatan yang dilarang pemerintah tanpa memiliki izin resmi. Atau, lihat pula peristiwa di sekitaran Cileunyi, ketika seorang oknum polisi memaksa mudik dari Bandung ke Garut tanpa surat lengkap. Maknanya ada dua: warga kita begitu gemar melanggar aturan, di sisi lain penegakan regulasi juga demikian lemahnya.

Maka, itulah sebenarnya persoalan kita. Kita meyakini, jika warga patuh dan aturan bisa ditegakkan selurus mungkin, bisa jadi angka penambahan pasien Covid-19 di Jawa Barat kini sudah semakin turun.

Halaman:

Editor: Zulfirman

Terkini

Sikap Kami: Bersyukur PTM, Tapi….

Kamis, 23 September 2021 | 11:00 WIB

Sikap Kami: Pikiran Miring Giring

Rabu, 22 September 2021 | 10:35 WIB

Sikap Kami: Mahalnya Cipta Kerja

Minggu, 19 September 2021 | 22:31 WIB

Sikap Kami: PON Salah Arah

Kamis, 16 September 2021 | 10:57 WIB

Sikap Kami: Nonton di Bioskop Cirebon

Rabu, 15 September 2021 | 10:04 WIB

Sikap Kami: Hipokritisme Pelaku Korupsi

Selasa, 14 September 2021 | 08:28 WIB

Sikap Kami: Karena Kita Bukan Wapres

Jumat, 10 September 2021 | 11:40 WIB

Sikap Kami: Tak Serius Urus Lapas

Kamis, 9 September 2021 | 11:13 WIB

Sikap Kami: Berbelok di Tengah Jalan

Rabu, 8 September 2021 | 09:09 WIB

Sikap Kami: Holywings 60 Menit

Selasa, 7 September 2021 | 08:57 WIB

Sikap Kami: Mual Gara-gara Survei

Senin, 6 September 2021 | 08:19 WIB

Sikap Kami: Persib di Kompetisi Aneh

Jumat, 3 September 2021 | 09:53 WIB

Sikap Kami: Pemimpin yang Tak Diinginkan

Kamis, 2 September 2021 | 11:09 WIB

Sikap Kami: Membaca Data Corona

Rabu, 1 September 2021 | 13:59 WIB

Sikap Kami: 'Surga' Kita, Rumah Kita

Selasa, 31 Agustus 2021 | 12:00 WIB

Sikap Kami: Masih Perlukah PPKM?

Senin, 30 Agustus 2021 | 12:00 WIB

Sikap Kami: Menangislah Cimahi

Jumat, 27 Agustus 2021 | 17:15 WIB

Sikap Kami: Imunitas di Pengadilan

Rabu, 25 Agustus 2021 | 11:05 WIB

Sikap Kami: 404 : Not Found

Senin, 23 Agustus 2021 | 11:10 WIB

Sikap Kami: Robin Hood Salah Jalan

Kamis, 19 Agustus 2021 | 13:20 WIB
X