• Sabtu, 27 November 2021

Mentimun Bungkuk BUMN

- Rabu, 2 Desember 2020 | 14:37 WIB

RASA-RASANYA, salah seorang menteri yang paling pusing di kabinet Joko Widodo-Maruf Amin adalah Erik Thohir. Dia adalah pengendali gula yang selalu dirubungi semut-semut.

Ketika di awal menjadi Menteri BUMN, dia bertekad akan membebaskan BUMN dari intrik politik. Tapi, rupanya, setelah jalan, dia tak takut juga. Penempatan-penempatan pengurus BUMN, terutama di jajaran komisaris, kini tak semata-mata lagi berlandaskan profesionalitas.

Sekarang, begitu banyak orang-orang yang berjasa saat kemenangan Jokowi-Maruf duduk senang di BUMN. Tak sedikit relawan yang akhirnya ditunjuk negara menjadi komisaris di badan usaha pelat merah itu.

Ada yang aneh? Sebenarnya tidak terlalu juga. Di era presiden sebelumnya, ada juga orang-orang di sekitar Susilo Bambang Yudhoyono jadi komisaris. Hanya, rasa-rasanya, dibanding era SBY, kali ini jumlahnya jauh lebih banyak. Dan, hanya sedikit yang kompetensinya meyakinkan.

Tetapi, rupanya, selain ada yang inkopetensi, tak satu-dua pula di antara komisaris ini yang betul-betul menaikkan kelasnya sebagai pejabat perusahaan pelat merah. Atau, jangan-jangan belum siap jadi pejabat BUMN. Maka, sikap-sikap partisan yang ekstrem masih terbawa-bawa.

Kemarin, misalnya, dunia maya heboh karena ucapan tak elok komisaris BUMN atas peristiwa positif Covid-19 Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Sang komisaris rupanya belum bisa membedakan posisinya sebagai pejabat BUMN dan influenser yang dia lakoni selama ini. Maka, cuitannya yang jauh dari adab, menjadi sasaran cacian warga.

Tentu saja, dengan sikap partisan ekstrem seperti itu, sulit bagi kita membayangkan perannya akan ada dalam kemajuan BUMN. Sebab, otak dan pikirannya hampir pasti sudah punya platform: menyukai A secara personal, dan membenci B juga secara personel.

Padahal, dalam dunia usaha, bukankah soal suka dan tak suka secara personel harus dicerabut? Target badan usaha adalah bagaimana menyehatkan, membuatnya profit, dengan cara-cara yang baik.

Kita berharap, relawan-relawan yang duduk di BUMN itu tak seperti komisaris yang satu ini. Sebab, jika seperti itu juga, maka hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi: BUMN takkan maju-maju atau sang komisaris hanya jadi mentimun bungkuk.

Halaman:

Editor: Ghiok Riswoto

Tags

Terkini

Sikap Kami: Sami Sade Mengindonesia

Kamis, 25 November 2021 | 11:32 WIB

Urgensi Perubahan RTRW Jabar

Rabu, 24 November 2021 | 14:42 WIB

Sikap Kami: Euforia Mandalika

Selasa, 23 November 2021 | 15:45 WIB

Sikap Kami: Ini Bukan Prank

Selasa, 23 November 2021 | 15:41 WIB

Sikap Kami: Panas ke Gedung Sate

Rabu, 17 November 2021 | 08:30 WIB

Sikap Kami: Biskita, Biskuat, Bus Siapa?

Rabu, 3 November 2021 | 12:45 WIB

Sikap Kami: Siaga La Nina

Rabu, 3 November 2021 | 10:48 WIB

Sikap Kami: Sesat Pikir si Menteri

Selasa, 26 Oktober 2021 | 08:04 WIB

Sikap Kami: Bogor Barat, Apa Kabar?

Senin, 25 Oktober 2021 | 05:15 WIB

Sikap Kami: Durian Runtuh Jabar

Jumat, 22 Oktober 2021 | 06:05 WIB

Sikap Kami: Kultur Bonus

Rabu, 20 Oktober 2021 | 09:35 WIB

Sikap Kami: Ironi Atlet

Kamis, 14 Oktober 2021 | 09:38 WIB

Sikap Kami: Juara Lahir Batin di Papua

Rabu, 13 Oktober 2021 | 17:50 WIB

Sikap Kami: Tentang Survei Emil

Selasa, 12 Oktober 2021 | 12:07 WIB

Sikap Kami: PPKM yang Membingungkan

Rabu, 6 Oktober 2021 | 12:02 WIB

Sikap Kami: Tak Tembak Kamu!

Selasa, 5 Oktober 2021 | 06:00 WIB

Sikap Kami: Berkaca dari Papua

Senin, 4 Oktober 2021 | 09:28 WIB

Sikap Kami: Meluruskan Investasi

Jumat, 1 Oktober 2021 | 13:13 WIB

Sikap Kami: Makin Lucu, Makin Gemas

Kamis, 30 September 2021 | 12:32 WIB
X