• Minggu, 5 Desember 2021

Adios, El Pibe de Oro

- Jumat, 27 November 2020 | 15:51 WIB

MINGGU, 17 Juli 1994. Stadion Rose Bowl di Pasadena, kawasan di pinggir pantai California, Amerika Serikat. Cukup panas saat itu. Mungkin itu sebabnya, banyak pria yang melepas kaosnya. Bagi kami, itu tanggal yang penting. Itu pertama kali kami meliput final Piala Dunia. Karena itu, meski ada yang menawar tiket sampai US$500, kami tak lepas.

Final di luar dugaan berlangsung membosankan. Pemain Brasil –dimotori Romario, Bebeto—dan Italia –dilapis Franco Baresi dan Paolo Maldini—tampil sangat hati-hati. Brasil akhirnya menang 3-2 melalui adu penalti.

Maradona juga ada di Stadion Rose Bowl saat itu. Bukan lagi main karena dia sudah dikeluarkan dari turnamen akibat doping. Argentina sudah tersingkir. Tim Tango kandas di putaran kedua, dikalahkan Gheorghe Hagi dan Ilie Dumitrescu dari Rumania.

Dikeluarkan dari Piala Dunia –Piala Dunia terakhirnya—bukan berarti Maradona kehilangan magnet. Di Rose Bowl, dia jadi komentator laga final untuk televisi atau radio. Tetap jadi pusat perhatian. Posisinya terpisah dengan wartawan tulis.

Maradona adalah kontroversi, tapi sekaligus juga sepak bola itu sendiri. Dia megabintang bahkan ketika masih remaja. Dia yang membuat Argentina bergejolak ketika Cesar Luis Menotti menolaknya masuk tim nasional Argentina di Piala Dunia 1978 karena masih sangat belia.

Ketika dia membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 1986, dia menjadi pahlawan sejati. Terutama pada laga semifinal itu. Dia –antara lain lewat gol Tangan Tuhan—mengalahkan Inggris, pertarungan negara yang secara politik sedang berperang memperebutkan Malvinas.

Tapi, Maradona adalah juga yang tak kuat menahan status pemain bintang. Selepas dari Barcelona, dia bergabung dengan Napoli. Di sini, dia mulai terlibat obat-obatan terlarang. Di sini dia menjemput kejayaan sekaligus kehancuran. Menjadi pahlawan Napoli dan bersahabat dengan kartel obat terlarang.

Belajar dari Maradona adalah belajar sebagai  bintang. Dia menjadi tokoh paling menonjol Argentina setelah Evita Peron. Dia bisa menyatukan Argentina hanya lewat gocekan kaki dan gol-golnya. Dia mampu menghadirkan kebanggaan yang bahkan hingga kini masih dirasakan negara Amerika Selatan itu.

Tapi, belajar dari Maradona adalah juga belajar bagaimana menjaga bintang. Maradona tak kesulitan meraihnya, tapi tak mampu menjaganya. Candu, doping, kelebihan berat badan, adalah yang dihadapinya di akhir karier.

Halaman:

Editor: Ghiok Riswoto

Tags

Terkini

Sikap Kami: Anies-Emil, Oke!

Selasa, 30 November 2021 | 10:51 WIB

Sikap Kami: Gimik Politik

Senin, 29 November 2021 | 09:39 WIB

Sikap Kami: Sami Sade Mengindonesia

Kamis, 25 November 2021 | 11:32 WIB

Urgensi Perubahan RTRW Jabar

Rabu, 24 November 2021 | 14:42 WIB

Sikap Kami: Euforia Mandalika

Selasa, 23 November 2021 | 15:45 WIB

Sikap Kami: Ini Bukan Prank

Selasa, 23 November 2021 | 15:41 WIB

Sikap Kami: Panas ke Gedung Sate

Rabu, 17 November 2021 | 08:30 WIB

Sikap Kami: Biskita, Biskuat, Bus Siapa?

Rabu, 3 November 2021 | 12:45 WIB

Sikap Kami: Siaga La Nina

Rabu, 3 November 2021 | 10:48 WIB

Sikap Kami: Sesat Pikir si Menteri

Selasa, 26 Oktober 2021 | 08:04 WIB

Sikap Kami: Bogor Barat, Apa Kabar?

Senin, 25 Oktober 2021 | 05:15 WIB

Sikap Kami: Durian Runtuh Jabar

Jumat, 22 Oktober 2021 | 06:05 WIB

Sikap Kami: Kultur Bonus

Rabu, 20 Oktober 2021 | 09:35 WIB

Sikap Kami: Ironi Atlet

Kamis, 14 Oktober 2021 | 09:38 WIB

Sikap Kami: Juara Lahir Batin di Papua

Rabu, 13 Oktober 2021 | 17:50 WIB

Sikap Kami: Tentang Survei Emil

Selasa, 12 Oktober 2021 | 12:07 WIB

Sikap Kami: PPKM yang Membingungkan

Rabu, 6 Oktober 2021 | 12:02 WIB

Sikap Kami: Tak Tembak Kamu!

Selasa, 5 Oktober 2021 | 06:00 WIB

Sikap Kami: Berkaca dari Papua

Senin, 4 Oktober 2021 | 09:28 WIB
X