• Minggu, 24 Oktober 2021

Menyoal Dualisme SOKSI

- Selasa, 30 Maret 2021 | 17:46 WIB

Akhir pekan ini menjadi momen penting bagi keluarga besar Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Jawa Barat. Salah satu organisasi kemasyarakatan tertua di Tanah Air ini bakal melangsungkan musyawarah daerah (Musda) yang diawali dengan rapat pimpinan daerah (Rapimda). Yang menarik, Musda kesepuluh ini menjadi yang pertama setelah akhir tahun 2020 lalu muncul “SOKSI lain” di Jawa Barat. Dualisme ini menandai fase baru SOKSI Jawa Barat yang selama puluhan tahun sebelumnya solid sebagai satu kesatuan.

Lalu, jika ada yang bertanya siapakah pemilik sah SOKSI, setidaknya ada dua hal yang bisa menjadi rujukan untuk memudahkan jawabannya. Sebagai negara hukum, tentu saja pijakan utama adalah produk hukum. Sebagai organisasi yang telah melewati tiga babak sejarah Republik, aspek historis menjadi pertimbangan lain yang tak kalah pentingnya. Jika dua matra itu sudah dimiliki, sejatinya tidak ada lagi polemik keabsahan sebuah entitas. Jawaban atas pertanyaan tersebut turut menentukan nasib SOKSI Jawa Barat itu sendiri.

Dualisme SOKSI

Di tingkat nasional, terdapat dua pihak yang mengklaim sebagai Ketua Umum SOKSI. Lengkap dengan susunan pengurus Dewan Pimpinan Nasional (Depinas) masing-masing. Ahmadi Noor Supit di satu kutub, Ali Wongso Sinaga di kutub lainnya. Ahmadi Noor Supit ditetapkan menjadi ketua umum dalam Musyawarah Nasional (Munas) XI SOKSI di Jakarta pada 24-26 Juli 2020. Adapun Ali Wongso terpilih dalam Munas X SOKSI tiga tahun sebelumnya di kota yang sama.

Apakah Munas XI yang memilih Ahmadi Noor merupakan kelanjutan dari Munas X yang menetapkan Ali Wongso? Tentu saja bukan. Munas XI/2020 merupakan kesinambungan dari Munas X yang berlangsung di Cilegon, Banten, pada 20 Mei 2015. Kala itu, Munas X/2015 secara aklamasi memilih Ade Komarudin sebagai Ketua Umum SOKSI. Sementara itu, Munas X/2017 merupakan episode lanjutan dari Munas IX yang berlangsung di Bogor pada 2010 silam. Nah, dari Bogor itulah babak baru dualisme SOKSI bermula.

Sampai 2010, hanya ada satu SOKSI di Indonesia. Benih-benih keretakan organisasi yang berdiri pada 20 Mei 1960 ini bermula sejak hari kedua berlangsungnya Munas IX pada 22 Mei 2010. Merujuk pada dokumen putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta Nomor: 48/G/2020/PTUN-JKT Tanggal 7 September 2020, pemicunya adalah pembahasan Tata Tertib Munas IX, khususnya pasal 41 dan 45 yang membahas persyaratan calon Ketua Umum SOKSI. Pembahasan tata tertib ini kemudian berlarut hingga berakhirnya Munas keesokan harinya. Munas berakhir deadlock dan memberikan mandat kepada pendiri SOKSI, Suhardiman, untuk mengambil langkah-langkah selanjutnya.

Tak semua peserta sepakat dengan keputusan Munas. Sebagian peserta “melanjutkan” Munas untuk kemudian memilih Rusli Zainal sebagai Ketua Umum SOKSI dan Ali Wongso sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum. Adapun Suhardiman sebagai pengambil wewenang Munas mengeluarkan  sejumlah kebijakan strategis. Salah satunya menetapkan Ade Komarudin sebagai Ketua Umum Depinas SOKSI masa bakti 2010-2015.

Penetapan ini ditindaklanjuti dengan serah terima jabatan dari Ketua Umum SOKSI 2005-2010 Syamsul Mu’arif kepada Ade Komarudin sebagai Ketua Umum SOKSI 2010-2015 pada 2  Juni  2010. Serah terima meliputi seluruh panji-panji organisasi SOKSI, perangkat, serta inventaris atau harta kekayaan bergerak maupun tidak bergerak milik  SOKSI. Sejak itulah babak dualisme dimulai. Babak yang berlanjut hingga hari ini.

Dalam perkembangannya, Ade Komarudin kembali terpilih menjadi nakhoda SOKSI pada Munas X/2015. Aspek kesehatan Ade Komarudin kemudian mengantarkan Bobby Suhardiman, Sekretaris Dewan Pembina SOKSI, menjadi Plt. Ketua Umum SOKSI. Bobby kemudian mengantarkan berlangsungnya Munas XI/2020 yang memilih Ahmadi Noor sebagai Ketua Umum SOKSI masa bakti 2020-2025. Adapun Bobby Suhardiman didapuk menjadi Ketua Dewan Pembina. Di kudu berbeda, Ali Wongso resmi menjadi ketua umum setelah terpilih dalam Munas X/2017.

Halaman:

Editor: Ghiok Riswoto

Tags

Terkini

Sikap Kami: Durian Runtuh Jabar

Jumat, 22 Oktober 2021 | 06:05 WIB

Sikap Kami: Kultur Bonus

Rabu, 20 Oktober 2021 | 09:35 WIB

Sikap Kami: Ironi Atlet

Kamis, 14 Oktober 2021 | 09:38 WIB

Sikap Kami: Juara Lahir Batin di Papua

Rabu, 13 Oktober 2021 | 17:50 WIB

Sikap Kami: Tentang Survei Emil

Selasa, 12 Oktober 2021 | 12:07 WIB

Sikap Kami: PPKM yang Membingungkan

Rabu, 6 Oktober 2021 | 12:02 WIB

Sikap Kami: Tak Tembak Kamu!

Selasa, 5 Oktober 2021 | 06:00 WIB

Sikap Kami: Berkaca dari Papua

Senin, 4 Oktober 2021 | 09:28 WIB

Sikap Kami: Meluruskan Investasi

Jumat, 1 Oktober 2021 | 13:13 WIB

Sikap Kami: Makin Lucu, Makin Gemas

Kamis, 30 September 2021 | 12:32 WIB

Sikap Kami: Tetap Waspada di Sekolah

Rabu, 29 September 2021 | 13:29 WIB

Sikap Kami: Mari Selamatkan Diri

Selasa, 28 September 2021 | 12:45 WIB

Sikap Kami: Melawan Hoaks PTM

Senin, 27 September 2021 | 09:57 WIB

Sikap Kami: Bersyukur PTM, Tapi….

Kamis, 23 September 2021 | 11:00 WIB

Sikap Kami: Pikiran Miring Giring

Rabu, 22 September 2021 | 10:35 WIB

Sikap Kami: Mahalnya Cipta Kerja

Minggu, 19 September 2021 | 22:31 WIB

Sikap Kami: PON Salah Arah

Kamis, 16 September 2021 | 10:57 WIB

Sikap Kami: Nonton di Bioskop Cirebon

Rabu, 15 September 2021 | 10:04 WIB

Sikap Kami: Hipokritisme Pelaku Korupsi

Selasa, 14 September 2021 | 08:28 WIB
X