• Minggu, 26 September 2021

Sikap Kami: Kue untuk Pasirkaliki

- Kamis, 15 Juli 2021 | 07:00 WIB

KITA sebut saja Balai Wyata Guna. Kalau disebut lengkap, panjang. Cenderung ribet. Susah mengingatnya. Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra. BRSPDSN Wyata Guna.

Kerap juga jadi bahan berita. Misalnya, pernah ditutup dua pekan karena pegawainya banyak terpapar Covid-19, Oktober lalu. Pernah pula heboh karena 30-an penghuninya menginap di trotoar saat statusnya berubah jadi balai dengan nama yang panjang itu.

Tapi, tak ada yang seheboh Selasa (13/7) lalu, ketika Menteri Sosial Tri Rismaharini berkunjung ke sana. Di sana, di balai yang berlokasi di Jalan Pajajaran, Pasirkaliki itu, sang menteri memarahi anak buahnya. Melihat kerja anak buahnya tak beres, dia ancam bisa memindahkan ke Papua.

Pemimpin memarahi anak buahnya, hal yang normal. Sepatutnya itu bisa menjadi pendongkrak kinerja aparatur di sana. Kita sependat. Setuju pisan. Terutama karena fungsi sosialnya ikut melayani penanganan pandemi Covid-19.

Tetapi, ada yang patut kita sesalkan. Memarahi anak buah di depan orang banyak, apalagi di depan kamera wartawan, adalah hal yang tidak elok. Itu artinya mempermalukan mereka. Yang terjadi bukan pembinaan atasan kepada bawahan. Buat kita, itu kemarahan yang destruktif.

Kita heran, kenapa Bu Menteri tak menarik saja pimpinan balai ke dalam ruangan, memberikan masukan dan wejangan. Itu jauh lebih berwibawa, lebih terhormat, bukan saja bagi aparatur, melainkan juga untuk Bu Menteri.

Kita percaya, Bu Menteri sudah banyak makan asam garam kepemimpinan. Tapi, mengumbar emosi di depan khalayak, buat kita itu menandakan Bu Menteri sepatutnya belajar lebih banyak soal psikologi kepemimpinan.

Apalagi kemudian menyinggung-nyinggung memindahkan ke Papua. Kita berharap itu hanya pernyataan emosional saja. Kalau itu dilakukan di tengah alam sadar yang normal, itu tak patut dilakukan pemimpin.

Itulah sebabnya, ketenangan, kebesaran jiwa pemimpin diperlukan. Tak perlu mengumbar kata di tengah suasana hati penuh emosional. Sebab, bisa memunculkan pernyataan-pernyataan yang bisa memperlebar persoalan.

Halaman:

Editor: Zulfirman

Tags

Terkini

Sikap Kami: Bersyukur PTM, Tapi….

Kamis, 23 September 2021 | 11:00 WIB

Sikap Kami: Pikiran Miring Giring

Rabu, 22 September 2021 | 10:35 WIB

Sikap Kami: Mahalnya Cipta Kerja

Minggu, 19 September 2021 | 22:31 WIB

Sikap Kami: PON Salah Arah

Kamis, 16 September 2021 | 10:57 WIB

Sikap Kami: Nonton di Bioskop Cirebon

Rabu, 15 September 2021 | 10:04 WIB

Sikap Kami: Hipokritisme Pelaku Korupsi

Selasa, 14 September 2021 | 08:28 WIB

Sikap Kami: Karena Kita Bukan Wapres

Jumat, 10 September 2021 | 11:40 WIB

Sikap Kami: Tak Serius Urus Lapas

Kamis, 9 September 2021 | 11:13 WIB

Sikap Kami: Berbelok di Tengah Jalan

Rabu, 8 September 2021 | 09:09 WIB

Sikap Kami: Holywings 60 Menit

Selasa, 7 September 2021 | 08:57 WIB

Sikap Kami: Mual Gara-gara Survei

Senin, 6 September 2021 | 08:19 WIB

Sikap Kami: Persib di Kompetisi Aneh

Jumat, 3 September 2021 | 09:53 WIB

Sikap Kami: Pemimpin yang Tak Diinginkan

Kamis, 2 September 2021 | 11:09 WIB

Sikap Kami: Membaca Data Corona

Rabu, 1 September 2021 | 13:59 WIB

Sikap Kami: 'Surga' Kita, Rumah Kita

Selasa, 31 Agustus 2021 | 12:00 WIB

Sikap Kami: Masih Perlukah PPKM?

Senin, 30 Agustus 2021 | 12:00 WIB

Sikap Kami: Menangislah Cimahi

Jumat, 27 Agustus 2021 | 17:15 WIB

Sikap Kami: Imunitas di Pengadilan

Rabu, 25 Agustus 2021 | 11:05 WIB

Sikap Kami: 404 : Not Found

Senin, 23 Agustus 2021 | 11:10 WIB

Sikap Kami: Robin Hood Salah Jalan

Kamis, 19 Agustus 2021 | 13:20 WIB
X