• Selasa, 26 Oktober 2021

Sikap Kami: Buzzer Laknat di Olimpiade

- Kamis, 5 Agustus 2021 | 22:27 WIB

MOHON maaf, sekali ini kami tak kuasa menahan gejolak emosi. Menyangkutkan persoalan-persoalan SARA terhadap olahraga adalah perbuatan laknat. Jadi, jika ada buzzer yang melakukan itu, bisa kami simpulkan: itu buzzer laknat.

Bahkan ketika Indonesia (saat itu mengusung Hindia Belanda) tampil pertama –dan sekali-kalinya—di Piala Dunia, tahun 1938, pemainnya multiras. Kebanyakan Belanda, tapi ada juga Tionghoa, Jawa, Sumatera, dan Ambon. Mereka bersatu di lapangan.

Saat Indonesia secara sensasional menahan Uni Soviet di Olimpiade Melbourne 1956, tak semua pemainnya Melayu. Ada juga Tionghoa. Salah duanya: Thio Him Tjiang dan Endang Witarsa. Mereka satu. Tak terkotak-kotak. Endang Witarsa bahkan membaktikan hidup untuk sepak bola hingga akhir hayatnya, 2008 lalu.

Di bulutangkis juga begitu. Tahun 1973, tim Indonesia di Piala Thomas, di tengah berjibunnya pemain keturunan Tionghoa, dari Rudy Hartono, Muljadi, Christian Hadinata, Ade Chandra, Tjun Tjun, terselip Amril Nurman. Dia melayu asli. Dari Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

SARA menjadi musuh di panggung olahraga. Sudah dilawan bahkan sejak era Muhammad Ali. Ali jadi kontroversi pun sejatinya bukan soal SARA, melainkan penolakannya terhadap wajib militer. Buktinya, apapun agamanya, hampir semua warga Amerika kala itu menyukai pria asal St Louis itu.

Kurang apa hebatnya Lewis Hamilton? Tak lama lagi, dia jadi pembalap Formula 1 terhebat sepanjang sejarah. Dia “berbeda” sendiri di antara pembalap-pembalap lain. Tapi, tak ada yang menyoalnya. Bahkan, Hamilton menjadi pejuang paling depan menentang SARA di ajang olahraga. 

Tengok juga klub-klub profesional di Eropa. Di Stadion Anfield, Liverpool, kini ada ruang khusus untuk beribadah bagi muslim. Sebab, mereka sadar, ada pemain-pemain mereka yang harus menjalankan kewajiban personalnya dengan Tuhan. Juga di Barcelona. 

Bulan April lalu, di Liga Primer Inggris, kiper Crystal Palace, Vicente Guaita menunda melakukan tendangan gawang. Dia lakukan agar penyerang Leicester, Wesley Fofana dan Cheikou Kouyate, punya kesempatan berbuka puasa.

Jadi, olahraga itu menentang SARA. Sebab, dia menjunjung tinggi sportivitas. Dia tak peduli apa warna kulit orang, apa agamanya, darimana negaranya. Semuanya sama. Saling menghormati, saling menghargai.

Halaman:

Editor: Zulfirman

Tags

Terkini

Sikap Kami: Bogor Barat, Apa Kabar?

Senin, 25 Oktober 2021 | 05:15 WIB

Sikap Kami: Durian Runtuh Jabar

Jumat, 22 Oktober 2021 | 06:05 WIB

Sikap Kami: Kultur Bonus

Rabu, 20 Oktober 2021 | 09:35 WIB

Sikap Kami: Ironi Atlet

Kamis, 14 Oktober 2021 | 09:38 WIB

Sikap Kami: Juara Lahir Batin di Papua

Rabu, 13 Oktober 2021 | 17:50 WIB

Sikap Kami: Tentang Survei Emil

Selasa, 12 Oktober 2021 | 12:07 WIB

Sikap Kami: PPKM yang Membingungkan

Rabu, 6 Oktober 2021 | 12:02 WIB

Sikap Kami: Tak Tembak Kamu!

Selasa, 5 Oktober 2021 | 06:00 WIB

Sikap Kami: Berkaca dari Papua

Senin, 4 Oktober 2021 | 09:28 WIB

Sikap Kami: Meluruskan Investasi

Jumat, 1 Oktober 2021 | 13:13 WIB

Sikap Kami: Makin Lucu, Makin Gemas

Kamis, 30 September 2021 | 12:32 WIB

Sikap Kami: Tetap Waspada di Sekolah

Rabu, 29 September 2021 | 13:29 WIB

Sikap Kami: Mari Selamatkan Diri

Selasa, 28 September 2021 | 12:45 WIB

Sikap Kami: Melawan Hoaks PTM

Senin, 27 September 2021 | 09:57 WIB

Sikap Kami: Bersyukur PTM, Tapi….

Kamis, 23 September 2021 | 11:00 WIB

Sikap Kami: Pikiran Miring Giring

Rabu, 22 September 2021 | 10:35 WIB

Sikap Kami: Mahalnya Cipta Kerja

Minggu, 19 September 2021 | 22:31 WIB

Sikap Kami: PON Salah Arah

Kamis, 16 September 2021 | 10:57 WIB

Sikap Kami: Nonton di Bioskop Cirebon

Rabu, 15 September 2021 | 10:04 WIB
X