• Selasa, 26 Oktober 2021

Sikap Kami: 404 : Not Found

- Senin, 23 Agustus 2021 | 11:10 WIB

HUKUM yang hakiki itu berdasarkan regulasi berkeadilan. Bukan tergantung ucapan seseorang. Apalagi jika landasannya asumsi berdasarkan kepentingan.

Penegakan hukum kita, pada hal-hal tertentu, ada di titik itu. Tak percaya? Tengok saja persoalan mural yang membuncah seminggu-dua ini. Terlihat sekali penegakan hukum tak sepenuhnya berdasarkan regulasi.

Mural-mural itu berisikan kritikan terhadap pemerintah. Ada ‘Dipaksa Sehat di Negara Sakit’. Ada juga ‘Tuhan Aku Lapar’. Yang paling menonjol adalah ‘404 : Not Found’ yang ditulis di atas lukisan wajah menyerupai presiden.

Negara, tepatnya penegak hukum, terbata-bata menghadapi aksi mural itu. Seketika dihapus. Katanya, menghina lambang negara. Entah lambang negara yang mana. Katanya melanggar perda, entah perda yang mana.

Pembuat mural coba dicari. Padahal, penegak hukum tak menerima sebaris pun laporan dari pihak yang merasa dirugikan. Aneh. Padahal, dia delik aduan.

Orang-orang Istana menyebut ada pelanggaran perda. Berbusa-busa pula. Ah, betapa banyak mural bertebaran di seantero kota. Tak satupun yang dibersihkan. Semua aman. Karena isinya biasa-biasa saja. Tak menyinggung siapa-siapa, apalagi kebijakan pemerintah.

Lalu, kemudian muncul kabar, Presiden tak berkenan jika penegak hukum responsif terhadap hal-hal seperti (mural) itu. Maka, case closed! Yang membuat mural tak lagi dicari, malah mulai dipuji kreativitasnya. Astaga.

Mural adalah kreativitas. Dia adalah juga kritikan berformat satire. “Art should comfort the disturbed and distrub comfortable,” kata Cesar A Cruz, pria imigran ilegal pertama Meksiko yang lulus doktoral di Harvard, aktivis yang melakukan mogok makan 26 hari yang membuat otot Arnold Schwarzenegger, Gubernur California (kala itu) luluh.

Perlukah mural diatur? Kalau mural mau diatur, ya diatur semuanya. Jangan hanya mengatur mural yang berisi kritikan. Sebab, kritikan itu adalah bagian dari negara demokrasi. Mural puja-puji, mural lucu-lucu, harus disamakan dengan mural kritikan. Sebab, dia suara rakyat. Jangan dimatikan.

Halaman:

Editor: Zulfirman

Tags

Terkini

Sikap Kami: Bogor Barat, Apa Kabar?

Senin, 25 Oktober 2021 | 05:15 WIB

Sikap Kami: Durian Runtuh Jabar

Jumat, 22 Oktober 2021 | 06:05 WIB

Sikap Kami: Kultur Bonus

Rabu, 20 Oktober 2021 | 09:35 WIB

Sikap Kami: Ironi Atlet

Kamis, 14 Oktober 2021 | 09:38 WIB

Sikap Kami: Juara Lahir Batin di Papua

Rabu, 13 Oktober 2021 | 17:50 WIB

Sikap Kami: Tentang Survei Emil

Selasa, 12 Oktober 2021 | 12:07 WIB

Sikap Kami: PPKM yang Membingungkan

Rabu, 6 Oktober 2021 | 12:02 WIB

Sikap Kami: Tak Tembak Kamu!

Selasa, 5 Oktober 2021 | 06:00 WIB

Sikap Kami: Berkaca dari Papua

Senin, 4 Oktober 2021 | 09:28 WIB

Sikap Kami: Meluruskan Investasi

Jumat, 1 Oktober 2021 | 13:13 WIB

Sikap Kami: Makin Lucu, Makin Gemas

Kamis, 30 September 2021 | 12:32 WIB

Sikap Kami: Tetap Waspada di Sekolah

Rabu, 29 September 2021 | 13:29 WIB

Sikap Kami: Mari Selamatkan Diri

Selasa, 28 September 2021 | 12:45 WIB

Sikap Kami: Melawan Hoaks PTM

Senin, 27 September 2021 | 09:57 WIB

Sikap Kami: Bersyukur PTM, Tapi….

Kamis, 23 September 2021 | 11:00 WIB

Sikap Kami: Pikiran Miring Giring

Rabu, 22 September 2021 | 10:35 WIB

Sikap Kami: Mahalnya Cipta Kerja

Minggu, 19 September 2021 | 22:31 WIB

Sikap Kami: PON Salah Arah

Kamis, 16 September 2021 | 10:57 WIB

Sikap Kami: Nonton di Bioskop Cirebon

Rabu, 15 September 2021 | 10:04 WIB
X