• Selasa, 26 Oktober 2021

Sikap Kami: Imunitas di Pengadilan

- Rabu, 25 Agustus 2021 | 11:05 WIB

TIDAKLAH susah menambah imunitas di tengah pandemi Covid-19 ini. Datanglah ke ruang pengadilan. Dijamin kita akan mendapatkan kisah-kisah unik yang kadang bisa membuat tertawa ngakak.

Tak percaya? Tengok saja persidangan kasus dugaan korupsi bansos dengan terdakwa Juliari Batubara. Boleh kita terpingkal-pingkal ketika hakim menyampaikan keputusan, terutama pada konsideran yang meringankan terdakwa yang akhirnya dijatuhi vonis 12 tahun.

Kata hakim, Juliari sudah cukup menderita dicerca, dimaki, dihina oleh masyarakat. Juliari telah divonis masyarakat telah bersalah padahal belum ada putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap.

Cercaan, makian, hinaan itu, ditengarai banyak muncul di media sosial. Sebaiknya, para hakim yang mulia itu, sering-seringlah buka media sosial. Makian, hinaan, cercaan itu tak hanya dialami Juliari, banyak pihak lain, termasuk Edhi Prabowo, rekan Juliari di kabinet Jokowi awal periode kedua. Adakah cacian, hinaan, makian itu jadi konsideran yang meringankan hukuman Edhi Prabowo? Atau, adakah hal serupa jadi pertimbangan meringankan hukuman Habib Rizieq Shihab yang bukan lagi dicerca, melainkan dihujat di media sosial?

Saran kita kepada hakim yang mulia, pertimbangan-pertimbangan tersebut harusnya berlaku sesuai nurani keadilan. Jika diberlakukan terhadap seseorang, patutnya juga diberikan kepada pihak lain.

Ini juga yang terjadi pada pemangkasan hukuman kasus suap Djoko Tjandra dengan terdakwa Pinangki Sirna Malasari. Dari 10 tahun vonis pengadilan negeri, majelis pengadilan tinggi memangkasnya jadi hanya empat tahun. Salah satu pertimbangan yang meringankan, Pinangki punya anak berusia empat tahun yang harus dia asuh.

Tidakkah kita bisa tertawa –tepatnya meringis? Saat Angelina Sondakh mengajukan kasasi atas kasus korupsi juga, MA memperberat hukumannya dari 4,5 tahun menjadi 12 tahun? Padahal, dia punya anak juga.

Jadi, pertanyaannya, siapakah sebenarnya pemilik keadilan di negeri ini? Kita meyakini, bukan lagi majelis hakim. Ada pemilik lain keadilan yang secara serampangan menjalankannya tanpa rasa keadilan, dengan menggunakan tangan-tangan hakim.

Sialnya, tak semua hakim kita berintegritas. Banyak yang gampang terpengaruh oleh hal-hal “non teknis”. Tak sedikit yang menyerahkan independensinya pada kekuatan-kekuatan tangan-tangan tak kelihatan.

Halaman:

Editor: Zulfirman

Tags

Terkini

Sikap Kami: Bogor Barat, Apa Kabar?

Senin, 25 Oktober 2021 | 05:15 WIB

Sikap Kami: Durian Runtuh Jabar

Jumat, 22 Oktober 2021 | 06:05 WIB

Sikap Kami: Kultur Bonus

Rabu, 20 Oktober 2021 | 09:35 WIB

Sikap Kami: Ironi Atlet

Kamis, 14 Oktober 2021 | 09:38 WIB

Sikap Kami: Juara Lahir Batin di Papua

Rabu, 13 Oktober 2021 | 17:50 WIB

Sikap Kami: Tentang Survei Emil

Selasa, 12 Oktober 2021 | 12:07 WIB

Sikap Kami: PPKM yang Membingungkan

Rabu, 6 Oktober 2021 | 12:02 WIB

Sikap Kami: Tak Tembak Kamu!

Selasa, 5 Oktober 2021 | 06:00 WIB

Sikap Kami: Berkaca dari Papua

Senin, 4 Oktober 2021 | 09:28 WIB

Sikap Kami: Meluruskan Investasi

Jumat, 1 Oktober 2021 | 13:13 WIB

Sikap Kami: Makin Lucu, Makin Gemas

Kamis, 30 September 2021 | 12:32 WIB

Sikap Kami: Tetap Waspada di Sekolah

Rabu, 29 September 2021 | 13:29 WIB

Sikap Kami: Mari Selamatkan Diri

Selasa, 28 September 2021 | 12:45 WIB

Sikap Kami: Melawan Hoaks PTM

Senin, 27 September 2021 | 09:57 WIB

Sikap Kami: Bersyukur PTM, Tapi….

Kamis, 23 September 2021 | 11:00 WIB

Sikap Kami: Pikiran Miring Giring

Rabu, 22 September 2021 | 10:35 WIB

Sikap Kami: Mahalnya Cipta Kerja

Minggu, 19 September 2021 | 22:31 WIB

Sikap Kami: PON Salah Arah

Kamis, 16 September 2021 | 10:57 WIB

Sikap Kami: Nonton di Bioskop Cirebon

Rabu, 15 September 2021 | 10:04 WIB
X