• Sabtu, 4 Desember 2021

Sikap Kami: Pemimpin yang Tak Diinginkan

- Kamis, 2 September 2021 | 11:09 WIB
Korupsi berjamaah. Foto: Ilustrasi/kppod.org
Korupsi berjamaah. Foto: Ilustrasi/kppod.org

INDONESIA pernah punya The Magnificent Seven. Tujuh pendekar. Tujuh yang agung. Tapi, kini Indonesia juga punya tujuh yang busuk.

The Magnificent Seven merujuk pada tujuh pendekar bulutangkis Indonesia pada dekade 1950-an. Mereka: Tan Joe Hoek, Ferry Sonneville, Tan King Gwan, Njoo Kim Bie, Eddy Yusuf, dan Olich Solihin.

Beberapa di antaranya bersentuhan dengan Jawa Barat. Tan Joe Hoek urang Bandung. Sekolahnya –SD, SMP, SMA—di Kota Kembang. Nama Indonesianya Hendra Kertanegara, Eddy Yusuf lahir di Surabaya, tapi cukup lama tinggal di Ciamis. Olich Solihin? Sundanya cukup kental.

Antonim dari The Magnificent Seven bukanlah mereka dari jagad olahraga. Mereka adalah para politisi. Mereka adalah pemimpin-pemimpin yang rela “memeras” anak buah sendiri.

Baca Juga: Sikap Kami: Membaca Data Corona

Ada tujuh bupati di Indonesia, sepanjang 2016-2021, yang terjerat kasus “memalak” anak buah itu. Mereka mengutip duit bagi aparatur sipil negara yang hendak naik jabatan. Seperti zaman kerajaan saja. Pakai upeti segala.

Tapi, itulah fakta yang terjadi kini. KPK membeberkan tujuh bupati yang terjerat jual beli jabatan itu adalah Bupati Klaten, Nganjuk, Cirebon, Kudus, Jumbang, Tanjungbalai, dan terakhir Probolinggo. Ada satu dari Jawa Barat: Cirebon.

Kita tak habis pikir, bagaimana pejabat lebih tinggi justru menekan bawahannya hanya untuk meminta uang receh. Bupati memalak yang mau jadi kepala dinas, bahkan jadi penjabat kepala desa. Sudah hilang akal dan nurani.

Dalam kejadian yang sama seperti ini, selalu kita mendengar alasan klasik: karena biaya politik yang tinggi. Menjadi pertanyaan, kalau biaya tinggi dan tak mungkin terkembalikan oleh uang halal, kenapa mau jadi kepala daerah, bupati?

Halaman:

Editor: Zulfirman

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sikap Kami: Anies-Emil, Oke!

Selasa, 30 November 2021 | 10:51 WIB

Sikap Kami: Gimik Politik

Senin, 29 November 2021 | 09:39 WIB

Sikap Kami: Sami Sade Mengindonesia

Kamis, 25 November 2021 | 11:32 WIB

Urgensi Perubahan RTRW Jabar

Rabu, 24 November 2021 | 14:42 WIB

Sikap Kami: Euforia Mandalika

Selasa, 23 November 2021 | 15:45 WIB

Sikap Kami: Ini Bukan Prank

Selasa, 23 November 2021 | 15:41 WIB

Sikap Kami: Panas ke Gedung Sate

Rabu, 17 November 2021 | 08:30 WIB

Sikap Kami: Biskita, Biskuat, Bus Siapa?

Rabu, 3 November 2021 | 12:45 WIB

Sikap Kami: Siaga La Nina

Rabu, 3 November 2021 | 10:48 WIB

Sikap Kami: Sesat Pikir si Menteri

Selasa, 26 Oktober 2021 | 08:04 WIB

Sikap Kami: Bogor Barat, Apa Kabar?

Senin, 25 Oktober 2021 | 05:15 WIB

Sikap Kami: Durian Runtuh Jabar

Jumat, 22 Oktober 2021 | 06:05 WIB

Sikap Kami: Kultur Bonus

Rabu, 20 Oktober 2021 | 09:35 WIB

Sikap Kami: Ironi Atlet

Kamis, 14 Oktober 2021 | 09:38 WIB

Sikap Kami: Juara Lahir Batin di Papua

Rabu, 13 Oktober 2021 | 17:50 WIB

Sikap Kami: Tentang Survei Emil

Selasa, 12 Oktober 2021 | 12:07 WIB

Sikap Kami: PPKM yang Membingungkan

Rabu, 6 Oktober 2021 | 12:02 WIB

Sikap Kami: Tak Tembak Kamu!

Selasa, 5 Oktober 2021 | 06:00 WIB

Sikap Kami: Berkaca dari Papua

Senin, 4 Oktober 2021 | 09:28 WIB
X