• Selasa, 24 Mei 2022

Sikap Kami: PON Salah Arah

- Kamis, 16 September 2021 | 10:57 WIB
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali mengikuti rapat persiapan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) secara virtual di Jakarta, Senin (13/7/2021). (ANTARA/HO-Kemenpora)
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali mengikuti rapat persiapan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) secara virtual di Jakarta, Senin (13/7/2021). (ANTARA/HO-Kemenpora)

BERAPA banyakkah medali emas yang diperebutkan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua? Sekitar 766 set medali. Bandingkan dengan Olimpiade Tokyo. Tak sampai separuhnya. Hanya 340 medali emas.

PON XX diklaim hanya mempertandingkan 37 cabang olahraga. Beberapa cabang kemudian ‘disembunyikan’ sebagai disiplin. Bayangkan, aeromodeling, paralayang, terbang layang, terjun payung, gantole, menjadi bagian dari cabang aerosport. Padahal, semestinya dia menjadi cabang masing-masing.

Tapi, beginilah, PON kita, makin ke sini, makin salah kaprah. Dia bukan lagi ajang mencari prestasi, tapi medali. Maka, tiap penyelenggaraan PON, niscaya akan selalu terjadi penambahan cabang olahraga. Sebab apa? Tiap daerah berlomba memburu medali.

Baca Juga: Sikap Kami: Nonton di Bioskop Cirebon

Medali? Iya, sekadar medali. Bukan prestasi. Jika rujukannya prestasi, tentu penampilan atlet-atlet Indonesia di pentas olahraga internasional kian mengkilap. Faktanya tidak. Di Olimpiade lalu, kita nyaris pulang tanpa gelar juara, kalau saja tak diselamatkan Greysia Polii/Apriyani Rahayu tanpa sengaja. Tanpa sengaja? Ya, karena ganda putri bukan nomor incaran.

Kita kembali terkenang pada dekade 1980-an, Presiden (kala itu) Soeharto mencanangkan PON sebagai PON prestasi. Rujukannya prestasi. Berjenjang, dari nasional ke regional, lalu internasional. Itu sebabnya kita bisa menjadi raja Asia Tenggara. Di era Orde Baru itu pula, hampir setiap saat kita negara paling berprestasi di ajang SEA Games, cukup diperhitungkan di Asian Games.

Era reformasi mengubahnya. Orientasi PON bukan lagi prestasi ke level internasioal, tapi sekadar perburuan medali. Maka, cabang-cabang aneh, yang rujukannya bukan ke SEA Games, Asian Games, Olimpiade, bermunculan.

Baca Juga: Sikap Kami: Hipokritisme Pelaku Korupsi

Maka, PON pun menjadi multi event paling gemuk cabang olahraganya. Mungkin nomor satu di dunia. Tapi, hasilnya? Mohon maaf, mengecewakan.

Halaman:

Editor: Zulfirman

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sikap Kami: Vatikan

Kamis, 19 Mei 2022 | 12:55 WIB

Sikap Kami: Yang Kurang dari PPDB

Kamis, 19 Mei 2022 | 11:43 WIB

Sikap Kami: Anies-Emil dan Demokrasi Absurd

Selasa, 10 Mei 2022 | 12:15 WIB

Sikap Kami: Tergila-gila WTP

Kamis, 28 April 2022 | 14:11 WIB

Sikap Kami: Don’t Change BJB Team

Selasa, 26 April 2022 | 22:34 WIB

Sikap Kami: Kartu Sakti Apa Lagi, Pak Jokowi?

Selasa, 26 April 2022 | 15:05 WIB

Sikap Kami: Ada Wilmar di Persis Solo

Jumat, 22 April 2022 | 16:39 WIB

Sikap Kami: Jebol Gadis

Kamis, 21 April 2022 | 13:11 WIB

Sikap Kami: 'Perjudian' Yana Mulyana

Senin, 18 April 2022 | 14:06 WIB

Sikap Kami: Ade Armando

Rabu, 13 April 2022 | 12:32 WIB

Sikap Kami: Persib 'Salah Obat'

Kamis, 7 April 2022 | 12:15 WIB

Sikap Kami: Juara BPD, Juara Proliga

Senin, 28 Maret 2022 | 22:45 WIB

Sikap Kami: Jadi Petani, Siapa Takut?

Jumat, 25 Maret 2022 | 14:11 WIB

Sikap Kami: Noel dan 'Dosa' BUMN

Kamis, 24 Maret 2022 | 12:03 WIB

Sikap Kami: Negara Pura-pura

Jumat, 18 Maret 2022 | 06:00 WIB

Sikap Kami: Politisi Bebal

Kamis, 17 Maret 2022 | 11:38 WIB

Sikap Kami: Makna Bank BJB

Rabu, 9 Maret 2022 | 11:00 WIB

Sikap Kami: Malangsari

Selasa, 22 Februari 2022 | 12:48 WIB

Sikap Kami: Penalti di JIS

Kamis, 17 Februari 2022 | 12:18 WIB
X