• Senin, 23 Mei 2022

Sikap Kami: Bahlul

- Selasa, 11 Januari 2022 | 12:50 WIB
Komisi pemilihan Umum RI mulai melakukan rekapitulasi tingkat nasional penghitungan suara Pemilu 2019 di dalam negeri, Jumat (10/5) siang di Gedung KPU RI, Jakarta./net ilustrasi
Komisi pemilihan Umum RI mulai melakukan rekapitulasi tingkat nasional penghitungan suara Pemilu 2019 di dalam negeri, Jumat (10/5) siang di Gedung KPU RI, Jakarta./net ilustrasi

MENTERI Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan suara pengusaha. Menurutnya, cukup banyak pengusaha ingin Pemilu 2024 ditunda. Buat kita, itu keinginan yang bahlul.

Pertama adalah karena konstitusi tidak mengenal hal itu. Pasal 7 UUD 1945 menyatakan: “Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.”

Kedua, pernyataan pengusaha melalui Menteri Bahlil itu menegaskan bahwa pesta demokrasi kita tidak sehat. Kenapa? Karena begitu banyak kepentingan di situ. Bukan hanya kepentingan politik semata, tapi juga kepentingan dunia usaha.

Bukankah yang tercuat, tapi tidak terungkap, pengusaha juga yang memiliki kepentingan dalam kontestasi demokrasi? Jika kepentingan dalam tataran wajar, normal saja. Tapi, pengusaha sudah masuk terlalu jauh. Bahkan, tak sedikit pengusaha, terutama yang memiliki dana melimpah, jadi bohir di setiap kontestasi demokrasi. Ulah yang kemudian memunculkan oligarki yang demikian kental.

Baca Juga: Sikap Kami: Predator Seks di Sekitar Kita!

Ketiga, jika pandemi Covid-19 dalam kaitan dengan pemulihan ekonomi yang disampaikan pengusaha melalui diskusi dengan Menteri Bahlil, harap dicatat Pemilu 2024 bukanlah pesta demokrasi pertama yang digelar di masa pandemi. Pilkada 2019 di berbagai daerah dilangsungkan ketika pandemi tengah meruyak.

Saat itu, yang memiliki kepedulian soal bahaya kontestasi demokrasi di tengah pandemi, bukanlah pengusaha, melainkan kalangan sipil. Apakah pilkada tidak berpengaruh pada stabilitas dunia usaha? Bagi pengusaha nasional (Jakarta) mungkin tidak, tapi pengaruh itu sangat terasa bagi pengusaha lokal.

Di tengah desakan kalangan sipil, pemerintah bergeming. Pilkada 2019 tetap berlangsung. Sampai ada kalangan sipil yang berpendapat Pilkada 2019 digelar karena ada kepentingan anak dan menantu presiden.

Baca Juga: Sikap Kami: Kompetisi Tak Pernah Bohong!

Halaman:

Editor: Zulfirman

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sikap Kami: Vatikan

Kamis, 19 Mei 2022 | 12:55 WIB

Sikap Kami: Yang Kurang dari PPDB

Kamis, 19 Mei 2022 | 11:43 WIB

Sikap Kami: Anies-Emil dan Demokrasi Absurd

Selasa, 10 Mei 2022 | 12:15 WIB

Sikap Kami: Tergila-gila WTP

Kamis, 28 April 2022 | 14:11 WIB

Sikap Kami: Don’t Change BJB Team

Selasa, 26 April 2022 | 22:34 WIB

Sikap Kami: Kartu Sakti Apa Lagi, Pak Jokowi?

Selasa, 26 April 2022 | 15:05 WIB

Sikap Kami: Ada Wilmar di Persis Solo

Jumat, 22 April 2022 | 16:39 WIB

Sikap Kami: Jebol Gadis

Kamis, 21 April 2022 | 13:11 WIB

Sikap Kami: 'Perjudian' Yana Mulyana

Senin, 18 April 2022 | 14:06 WIB

Sikap Kami: Ade Armando

Rabu, 13 April 2022 | 12:32 WIB

Sikap Kami: Persib 'Salah Obat'

Kamis, 7 April 2022 | 12:15 WIB

Sikap Kami: Juara BPD, Juara Proliga

Senin, 28 Maret 2022 | 22:45 WIB

Sikap Kami: Jadi Petani, Siapa Takut?

Jumat, 25 Maret 2022 | 14:11 WIB

Sikap Kami: Noel dan 'Dosa' BUMN

Kamis, 24 Maret 2022 | 12:03 WIB

Sikap Kami: Negara Pura-pura

Jumat, 18 Maret 2022 | 06:00 WIB

Sikap Kami: Politisi Bebal

Kamis, 17 Maret 2022 | 11:38 WIB

Sikap Kami: Makna Bank BJB

Rabu, 9 Maret 2022 | 11:00 WIB

Sikap Kami: Malangsari

Selasa, 22 Februari 2022 | 12:48 WIB

Sikap Kami: Penalti di JIS

Kamis, 17 Februari 2022 | 12:18 WIB
X