• Jumat, 27 Mei 2022

Sikap Kami: Kumaha Aing

- Rabu, 19 Januari 2022 | 12:00 WIB
Politisi PDIP Arteria Dahlan. (Net)
Politisi PDIP Arteria Dahlan. (Net)

DALAM rapat resmi pemerintahan, tentu saja semestinya menggunakan Bahasa Indonesia. Tapi, tidak juga ada larangan untuk memasukkan idiom-idiom yang berasal dari bahasa daerah, sepanjang tidak mengganggu alur komunikasi.

Apakah Kajati yang dimaksud Arteria Dahlan itu menggunakan Bahasa Sunda sepanjang rapat atau hanya satu-dua kalimat, kita belum jelas juga. Jika dari A-Z menggunakan bahasa daerah, tentu kurang pada tempatnya. Tapi, kalau hanya satu-dua kalimat, apatah salahnya. Sekadar penghangat suasana saja.

Bahasa Indonesia itu bahasa kita. Unsur utamanya dari Bahasa Melayu. Tapi, serapannya begitu banyak dari bahasa daerah lain. Tak apa. Itu memperkaya Bahasa Indonesia.

Kalau jarang dipakai dalam komunikasi, tentu Bahasa Indonesia tak mengenal kata “pangling”, “nyeri”, “mending”, atau “meriang”. Itu kata-kata Bahasa Indonesia yang menyerap Bahasa Sunda. Tak mungkin terserap jika jarang disebut dalam komunikasi resmi, sebagai sebuah penghangat itu tadi.

Baca Juga: Sikap Kami: Pendidikan yang Tercabik

Kenapa Bahasa Sunda disoal jika dalam ruang rapat, idiom-idiom dari bahasa daerah lain juga ramai bermunculan. Tak perlu juga tersinggung jika saja dalam rapat resmi muncul ucapan-ucapan semacam “kulonuwun”, atau “haturnuwun”, atau “haturnuhun”, atau “tarimo kasih”. Biasa saja. Kita maknai keberagaman itu.

Yang keliru dalam ruang-ruang rapat resmi, termasuk rapat yang dihadiri Arteria itu, adalah tidak menghargai kekayaan Bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Kerap kita dengar pernyataan-pernyataan menggunakan idiom asing, terutama Bahasa Inggris. “Which is”, “on the way”, “by the way”, dan yang sejenis, yang kerap keluar dari mulut wakil-wakil rakyat yang terhormat itu, adalah ungkapan yang tak menghormati Bahasa Indonesia. Rasanya, lebih sering kata-kata asing itu muncul ketimbang kata-kata daerah.

Jadi, jika ada idiom-idiom bahasa daerah, atau satu-dua kalimat bahasa daerah muncul, tak perlulah dipersoalkan sedemikian dalam. Toh, itu sering terjadi di ruang rapat. Bukan hanya menggunakan Bahasa Sunda, tapi juga bahasa daerah lainnya.

Baca Juga: Sikap Kami: Bahlul

Halaman:

Editor: Zulfirman

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sikap Kami: Vatikan

Kamis, 19 Mei 2022 | 12:55 WIB

Sikap Kami: Yang Kurang dari PPDB

Kamis, 19 Mei 2022 | 11:43 WIB

Sikap Kami: Anies-Emil dan Demokrasi Absurd

Selasa, 10 Mei 2022 | 12:15 WIB

Sikap Kami: Tergila-gila WTP

Kamis, 28 April 2022 | 14:11 WIB

Sikap Kami: Don’t Change BJB Team

Selasa, 26 April 2022 | 22:34 WIB

Sikap Kami: Kartu Sakti Apa Lagi, Pak Jokowi?

Selasa, 26 April 2022 | 15:05 WIB

Sikap Kami: Ada Wilmar di Persis Solo

Jumat, 22 April 2022 | 16:39 WIB

Sikap Kami: Jebol Gadis

Kamis, 21 April 2022 | 13:11 WIB

Sikap Kami: 'Perjudian' Yana Mulyana

Senin, 18 April 2022 | 14:06 WIB

Sikap Kami: Ade Armando

Rabu, 13 April 2022 | 12:32 WIB

Sikap Kami: Persib 'Salah Obat'

Kamis, 7 April 2022 | 12:15 WIB

Sikap Kami: Juara BPD, Juara Proliga

Senin, 28 Maret 2022 | 22:45 WIB

Sikap Kami: Jadi Petani, Siapa Takut?

Jumat, 25 Maret 2022 | 14:11 WIB

Sikap Kami: Noel dan 'Dosa' BUMN

Kamis, 24 Maret 2022 | 12:03 WIB

Sikap Kami: Negara Pura-pura

Jumat, 18 Maret 2022 | 06:00 WIB

Sikap Kami: Politisi Bebal

Kamis, 17 Maret 2022 | 11:38 WIB

Sikap Kami: Makna Bank BJB

Rabu, 9 Maret 2022 | 11:00 WIB

Sikap Kami: Malangsari

Selasa, 22 Februari 2022 | 12:48 WIB

Sikap Kami: Penalti di JIS

Kamis, 17 Februari 2022 | 12:18 WIB
X