SEMANGAT APAKAH INI?

Sejak diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia Pada 17 agustus 1945, tidak terasa sebentar lagi kita akan memperingati HUT RI ke 77.

SEMANGAT APAKAH INI?
Dr. Indra Kristian (Ketua IKA Fisip Universitas Al-Ghifari)

INILAHKORAN.Com,Bandung- Sejak diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia Pada 17 agustus 1945, tidak terasa sebentar lagi kita akan memperingati HUT RI ke 77. Angka 77 merupakan angka yang bukan kategori muda lagi untuk ukuran sebuah Negara.

Kemerdekaan Indonesia ini bukan hanya sebuah hadiah ataupun deal politik apalagi hasil mengemis dari Penjajah namun merupakan sebuah perjalanan panjang yang patut dibanggakan dan ditulis dalam sejarah bangsa ini.

Kita pasti sudah paham bagaimana mulai terbentuknya arah perjuangan kita saat ini dimulai dari kebangkitan Nasional tahun 1908 dilanjutkan dengan mulai bersatunya perjuangan para Pemuda dengan deklarasi Sumpah Pemuda pada tahun 1928 dan puncaknya adalah saat sebelum kemerdekaan bagaimana para pemuda menculik dan memaksa Soekarna dan Hatta untuk segera memprolamirkan diri lepas dari belenggu penjajahan.

Baca Juga: Sikap Kami: Untung Ada Holywings

Padahal dari beberapa fakta sejarah kita saksikan bahwa kemerdekaan akan segera diberikan namun dengan desakan para pemuda tadi maka soekarno hatta menjadi pembaca naskah proklamasi dan membuat Indonesia ini berdiri dengan gagahnya sepertia saat ini.

Saat ini Nampak sekali sejak pertengahan, juni sampai nanti menjelang agustus banyak sekali masyarakat terutama para pemuda membuat barikade dengan menggunakan kursi atau bangku untuk menghalangi para pengendara dengan tulisan besar “Pengumpulan dana dalam rangka peringatan HUT RI ke 77”.

Penulis sebagai pengamat sosial memang memerlukan data dan fakta pendukung dalam membuat sebuah tulisan terutama tulisan yang sifatnya empirik. Bagi penulis apapun bentuknya jika itu adalah sebuah tindakan untuk meminta bisa dikategorikan pengemis.

Baca Juga: Sikap Kami: Zillenial

Kegiatan yang dilakukan para pengumpul dana dalam rangka HUT ini sesungguhnya sudah mencederai semangat dari para pejuang yang sejak 1908 bahkan sebelum itu berkorban darah dan air mata demi terwujudnya kemerdekaan.

Itu juga sebabnya ketika saat Soekarna Hatta menyampaikan bahwa tidak usah tergesa-gesa kemerdekaan akan diberikan Jepang karena sudah di Bentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan) yang dibentuk 1 Maret 1945, berarti memang sedang dipersiapkan.

Namun saya bangga saat itu para pemuda tidak memiliki semangat pengemis jadinya memaksa bahkan dengan cara menculik untuk meminta Soekarno Hatta memanfaatkan momentum yang ada untuk segera memerdekakan diri tanpa campur tangan yang lain.

Baca Juga: Kawasan Bunderan HI Diberlakukan Rekayasa Lalin, Ini Rutenya

Jadi Penulis bertanya semangat apakah ini, dan cara pengumpulan dana dengan membuat plang dan dus tadi dilakukan oleh para pemuda yang seharusnya lebih kreatif dalam menggalang sumber dana, bahkan melakukannya di Lampu Merah dengan memakai atribut kampus terkadang, mungkin dengan membuat proposal ataupun dengan melaksanakan pekerjaan yang bisa dibayar yang nantinya bisa untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka membiayai rangkaian peringatan HUT RI tadi.

Coba kita lihat dari caranya mengumpulkan dana dengan menukar minuman dalam cup kepada para pengendara, apa bedanya dengan preman yang menukar minuman dalam cup dengan para supir angkot. Sungguh semangat dalam memeriahkan kemerdekaan yang bisa jadi tidak tepat.***

Oleh: Dr. Indra Kristian (Ketua IKA Fisip Universitas Al-Ghifari)


Editor : inilahkoran