Pemkab Bogor Berencana Ciptakan Sentra Jagung Hybrida

Dinas Ketahanan Pangan  dan Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Bogor akan menjadikan Kecamatan Megamendung sebagai sentra pertanian jagung hybrida.

Pemkab Bogor Berencana Ciptakan Sentra Jagung Hybrida
INILAH, Bogor – Dinas Ketahanan Pangan  dan Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Bogor akan menjadikan Kecamatan Megamendung sebagai sentra pertanian jagung hybrida.
 
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Bogor Sutrisno mengatakan, sentra pertanian jagung hybrida menggunakan lahan pertanian eks PT Perkebunan Nusantara VIII dan milik warga seluas 20 hektare.
 
"Dari pada lahan tersebut tidur, kami berencana memanfaatkan lahan tersebut ditanam jagung hybrida. Kecamatan Megamendung akan dijadikan sentra jagung hybrida," kata Sutrisno kepada wartawan, Senin (17/12/2018).
 
Dia menerangkan, untuk mencapai tujuan sentra jagung hybrida tersebut, Pemkab Bogor tidak memberikan langsung bantuan bibit, pupuk ataupun modal.
 
"Kami sudah gandeng pihak ketiga dalam memberikan bantuan pinjaman dengan bunga 0 persen, agar tanaman jagung hybrida ini tumbuh maksimal. Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan melalui UPT Pertanian VII memberikan bimbingan teknis kepada kelompok petani," terangnya.
 
Sutrisno menjelaskan, Pemkab Bogor juga mencarikan pembeli hasil panen jagung hybrida tersebut.
 
"Para petani diberikan pinjaman modal Rp6 juta per hektare. Lalu dari panen petani menghasilkan omset Rp18 juta atau untung Rp12 juta per hektare. Saya optimis kehidupan petani membaik dengan menjalankan program sentra jagung hybrida yang juga merupakan salah satu program pemerintah pusat ini," jelasnya.
 
Kepala UPT Pertanian VII Teguh Irianto menuturkan, program sentra jagung hybrida di Desa Sukamaju, Sukagalih dan Sukaresmi  ini rencananya akan dikembangkan hingga 50 hektare dan akan melibatkan 5 kelompok tani.
 
"Penanaman jagung hybrida ini mudah dan masa panennya cukup singkat yaitu 4 bulan, program sentra jagung hybrida ini juga dalam upaya membudidayakan agar petani di Megamendung atau Kawasan Puncak lebih memilih menanam jagung hybrida yang harga jualnya Rp4.500 per Kg ketimbang menanam jagung manis yang harganya cuma Rp 2.500 per Kg," tutur Teguh.
 
Menurutnya, sistem penanaman jagung bisa tumpang sari sehingga bisa menambah pendapatan petani jagung hybrida binaan Pemkab Bogor.
 
"Sebelum umur jagung hybrida satu bulan, para petani bisa menanam caisin, daun bawang dan lainnya. Saya yakin keuntungan petani bisa Rp 13-15 juta perhektar sementara biaya produksi hanya tambah sedikit untuk membeli bibit sayuran saja," pungkasnya.


Editor : inilahkoran