• Jumat, 1 Juli 2022

Kisah Inspiratif Bobotoh: Kehilangan Kaki Tak Halangi Mimpi Anton Gaungkan 'Mengbal Difabel'

- Jumat, 29 Oktober 2021 | 12:21 WIB
i Anton Sumartono (49) seorang Bobotoh Difabel. (Agus Satia Nagara)
i Anton Sumartono (49) seorang Bobotoh Difabel. (Agus Satia Nagara)
INILAHKORAN, Ngamprah - Kekurangan fisik bukanlah halangan bagi Anton Sumartono (49) seorang Bobotoh Difabel yang kini tengah gencar menyosialisasikan sepak bola tangan (mengbal difabel) bagi kaum disabilitas.
 
Kecelakaan yang telah merengut kaki kanannya pada tahun 2007 silam tak membuatnya berputus asa dan bangkit kembali melanjutkan hidup.
 
Kala itu, ia bersama dengan sang kakak tengah berboncengan dengan sepeda motor menuju arah Cikalong Wetan. Nahas, sebuah truk tangki yang kehilangan kendali menabrak kendaraan yang dikendarainya hingga terjatuh dan terseret.
 
 
Kendati Anton selamat, namun nasib berkata lain lantaran kaki kanannya harus diamputasi dan nyawa sang kakak tak bisa diselamatkan.
 
Namun, kecintaannya terhadap Persib Bandung sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) menjadi jalan agar dirinya tetap eksis dalam komunitas Bobotoh Difabel.
 
Hal ini pula yang menjadi semangatnya dalam memotivasi kaum disabilitas agar meyakinkan diri bahwa dibalik kekurangan ada kekuatan yang mampu untuk terus eksis dan berkarya.
 
"Kami kaum difabel bukan orang sakit. Kami punya hak yang sama untuk melakukan berbagai aktivitas lain seperti orang yang normal," ungkap Anton di Ngamprah belum lama ini.
 
Bersama seluruh anggota Bobotoh Difabel, ia mencoba untuk membuat cabang olahraga yang mirip dengan sepakbola. Hanya saja, bola yang dimainkan tidak menggunakan kaki melainkan dengan tangan.
 
 
"Sekarang ada main bola difabel atau mengbal difabel dengan tangan sambil. Dengan aturan bola jangan dipegang karena itu masuk pelanggaran," katanya.
 
Ia menjelaskan, mengbal difabel ini awalnya dirintis oleh teman-teman difabel di Padjadjaran Bandung.
 
"Selain sebagai Bobotoh, olahraga ini juga dicetuskan karena kecintaan teman-teman difabel terhadap sepak bola," jelasnya.
 
Ia menuturkan, dirinya bersama-sama dengan seluruh Bobotoh Difabel tengah gencar mempromosikan sepak bola tangan atau yang mereka sebut 'Mengbal Difabel'.
 
Kendati belum memiliki standarisasi dalam olahraga mengbal ini, Anton mengaku, dirinya dan seluruh anggota Bobotoh Difabel terus berusaha meramu berbagai aturan yang nantinya akan diterapkan sebagai standar olahraga mengbal difabel ini.
 
 
"Disebut mengbal difabel, jadi mengbal ini baru ada di Bandung karena masih terbilang langka, serta masih terbatas untuk difabel," ujarnya.
 
Namun, sambung dia, pihaknya pun ingin menyosialisasikan olahraga ini bikan hanya untuk kaum disabilitas saja, namun juga untuk non disabilitas.
 
"Dalam satu tim ada 6 (enam orang) dan untuk wasitnya sendiri bukan penyandang disabilitas," ujarnya.
 
Ia menyebut, para pemainnya tak hanya dari anggota Bobotoh Difabel biasa, namun juga para atlet Peparnas Jawa Barat juga selalu hadir untuk berpartisipasi dalam olahraga ini.
 
"Di Bandung sudah ada beberapa enam tim. Olahraga ini kebanyakan atlet yang ikut ke Padjadjaran, dengan scoop Jabar," sebutnya.
 
 
Ia berharap, ke depan mengbal difabel ini mendapat persetujuan dan dukungan dari National Paralympic Commitee (NPC) Indonesia dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
 
"Kalau cabor untuk difabel banyak karena dinaungi NPC melalui event Peparda, sementara untuk KONI ada Peparnas," ujarnya. (agus satia negara) ***

Editor: Bsafaat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X