Pesan Dekan Fakultas Psikologi Unisba untuk Para Siswa yang Libur Sekolah

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba) Dewi Sartika beri beberapa saran untuk anak-anak saat liburan sekolah.

Pesan Dekan Fakultas Psikologi Unisba untuk Para Siswa yang Libur Sekolah
Dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba) Dewi Sartika.

INILAHKORAN, Bandung - Waktu libur sekolah adalah masa yang dinantikan setelah mengikuti ujian.

Biasanya, di saat liburan sekolah seperti saat ini, tempat-tempat wisata penuh sesak dengan pengunjung.

Melihat hal tersebut, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba) Dewi Sartika mengatakan, ada beberapa saran untuk anak-anak saat liburan sekolah.

Selama liburan sekolah, sebetulnya banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengalihkan anak-anak dari kecanduan gawai (gadget).

Baca Juga: Maroon 5 Kembali Dikecam Orang Korea Karena Desai Poster Tur Dunia Mereka?

Asal saja, Ayah dan ibunya sedikit meluangkan waktu untuk anak-anaknya tersebut.

Pertama, anak-anak diajak dan ditantang untuk membuat projek. Seperti, membuat satu prakarya yang nanti hasilnya bisa menghiasi rumah.

"Dari mulai merancang, melakukan sampai dia sendiri merasa happy (senang) dengan hasil karyanya," ujar Dewi Sartika, Senin 4 Juli 2022.

Kedua, bermain bersama anak. Perhatikan hobi atau kesukaan anak. Sebagai orang tua, bisa menyalurkannya dalam berbagai aktivitas bersama.

Jika belum melihat atau menemukan hobi anak, pada kesempatan inilah saat yang tepat untuk bisa mengstimulasi anak dengan berbagai aktivitas atau permainan yang produktif, yang bisa menstimulasi perkembangan otaknya, maupun fisiknya.

Baca Juga: Spoiler Link Eat Love Kill Episode 9 : Kesedihan Eun Gye Hoon Pecah, Sang Ibu Alami Gangguan Mental

"Misalnya bermain catur, menggambar, membuat bangunan dari fasilitas yang ada dirumah, bermain lego, naik sepeda atau berolah raga bersama, yang penting orang tua harus sepenuhnya berada dalam permainan/ aktivitas tersebut, sehingga bisa dilakukan secara total," paparnya.

Ketiga, jika orang tua punya kesibukkan yang tidak bisa ditinggalkan, alternatif pertama bisa dilakukan dan tetap dihargai setelah tercapai hasilnya, diajak rekreasi bersama.

Keempat, suatu kebiasaan zaman dahulu yang mungkin sekarang-sekarang ini jarang dilakukan adalah, mengajak anak ke rumah saudara (kakek nenek paman atau saudara lainnya) ke Desa, berlibur di desa dan mengenalkan berbagai aktivitas alam yang asri. Berkebun, memberi makan hewan ternak, dan lainnya.

"Hal tersebut sangat dibutuhkan untuk perkembangan fisik, mental dan sosial (menumbuhkan kasih sayang pada alam, hewan dan juga saudara, selain bersilaturahmi), banyak pembelajaran yang di dapat dari aktivitas tersebut.

Kelima, untuk umat muslim, bisa dimasukkan ke pasantren kilat dan sifatnya tidak hanya belajar baca Quran dan agama, tetapi juga di dalamnya ada muatan belajar sosial, bertoleransi, belajar mengambangkan empati, kerjasama dan sopan santun.

Baca Juga: Hindari Dehidrasi, Kemenag Sampaikan Imbauan Jelang Puncak Ibadah Haji

"Memahami programnya menjadi sangat penting. Atau bisa dilakukan dirumah dengan terprogram dan disepakati dengan anak waktunya, agar belajar komit terhadap kesepatan," pungkas Dewi Sarika. *** (Okky Adiana)

 


Editor : inilahkoran