• Minggu, 17 Oktober 2021

Ahli: Ubah Strategi dengan Testing Massal Antigen

- Jumat, 30 Oktober 2020 | 10:20 WIB
Foto: Zainulmukhtar
Foto: Zainulmukhtar

INILAH, Garut- Melakukan pengetatan pergerakan masyarakat untuk mengendalikan dan menekan angka kasus positif Covid-19 sekarang ini sudah tidak efektif lagi. Harus ada pengubahan strategi cepat untuk dapat mengendalikan penyebaran Covid-19 tanpa membatasi pergerakan masyarakat. 

Salah satunya yakni dengan cara meningkatkan kapasitas tes Covid-19 secara massal, pelacakan (tracing) dan perawatan (treatment) dengan mengoptimalkan isolasi mereka yang terpapar Covid-19 secara baik. 

Peningkatan kapasitas tes Covid-19 pun sudah saatnya digantikan dari tes antibody atau rapid test dengan tes swab antigen. Sebuah tes swab cepat dan akurat yang sudah disetujui WHO.  

Hal itu mengemuka pada acara Peluncuran Gerakan Solidaritas Sejuta Tes untuk Indonesia "Jalan Menuju Pandemi Terkendali" digelar Gerakan Solidaritas Sejuta Tes Antigen untuk Indonesia melalui daring dipandu artis Olga Lydia, Rabu (28/10/2020).

Salah satu pembicara, ahli wabah Pandu Riono, mengatakan, pengetatan terhadap aktivitas masyarakat untuk mengatasi kasus Covid-19 sekarang sudah tak efektif lagi karena hal itu mestinya hanya dilakukan pada awal pandemi. Pengetatan itu tak lebih merupakan emergency/kedaruratan paling lama satu bulan. 

Sebagai gantinya maka protokol kesehatan tiga M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak) harus tetap dilaksanakan, ditambah melakukan testing massal secara akurat dan cepat. 

Menurutnya, Indonesia sebenarnya bisa mengendalikan kasus Covid-19 dan sebarannya kita bisa lebih baik kita bisa mengendalikan kasus Covid-19 dan menekan sebarannya. Namun kapasitas testing masih minim dan ada keterlambatan atau jeda pelaporan hasil tes serta penanganannya. Hal itu terjadi di seluruh daerah di Indonesia. Sehingga isolasi dua minggu dilakukan terhadap yang terpapar virus pun tak akan efektif karena sebelumnya sudah menularkan virus pada orang lain.  

Persoalan lainnya, kata Pandu, fokus perhatian juga selama ini lebih kepada mereka yang masuk rumah sakit daripada terhadap orang pembawa virus. 

"Rapid test tak memberikan hasil akurat. Ketika dites, hasilnya nonreaktif. Padahal sudah terpapar virus. Sebab memang rapid test itu hanya untuk mengetahui antibodi. Sehingga tes antibodi ini harus diganti," ujarnya.

Halaman:

Editor: Bsafaat

Terkini

X