• Rabu, 22 September 2021

Dominasi Tetap Kaum Gay, HIV/AIDS di Kabupaten Cirebon Capai 210 Kasus

- Minggu, 1 November 2020 | 14:30 WIB
Foto: Maman Suharman
Foto: Maman Suharman

INILAH, Cirebon - Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon belum bisa memprediksi apakah kasus HIV/AIDS tahun ini ada kenaikan atau justru penurunan.

Masalahnya, pada tahun lalu jumlah kasus HIV/AIDS tembus di angka 297 kasus. Sementara, hingga akhir Oktober tahun ini angkanya mencapai 210 kasus. Demikian dikatakan Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Cirebon Nanang Ruhyana, Minggu (1/11/2020).

Nanang menjelaskan, kalau melihat sisa dua bulan lagi sampai akhir tahun, bisa saja ada kenaikan. Namun prediksi bisa melesat, tergantung dari kemauan orang memeriksakan diri. Masalahnya, muncul jumlah kasus ketika ada masyarakat yang dinyatakan terperiksa. 

"Ini kan sifatnya sukarela. Jadi kalau ada orang yang memeriksakan diri ke rumah sakit dan dinyatakan positif, baru namanya kasus baru. Kalau dari donor darah walaupun terdeteksi, tidak bisa muncul hitungan. Kecuali yang bersangkutan memeriksa di rumah sakit, baru masuk data," papar Nanang.

Nanang mengaku miris karena penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Cirebon, 60 persennya masih didominasi kaum gay. Sedangkan yang diintervensi dalam program HIV/AIDS ada enam kelompok sasaran. Kelompok tersebut adalah populasi kunci yaitu gay dan waria, narkoba jarum suntik, PSK, lelaki berisiko ditambah kelompok risiko tinggi, ibu hamil, dan penderita TBC. 

"Enam kelompok ini yang terus kami pantau, terlebih populasi kunci. Kita terus melakukan sosialisai dibantu LSM yang konsen menangani HIV/AIDS," ungkapnya.

Namun, menurut Nanang dua per tiga kematian akibat HIV/AIDS itu diakibatkan penyakit TBC. Alasannya, HIV/AIDS menggerogoti daya tahan tubuh dan terus menurunkan imunitas. Bahayanya, penyebaran TBC melalui udara dan resiko menularnya sangat rentan. 

"Selain TBC, yang berisiko kena penyakit mematikan ini juga yang punya penyakit hepatitis B. Penularan bisa melalui hubungan seks. Makanya, kami siapkan  untuk setiap ibu hamil. Mereka harus diperiksa HIV dan hepatitis B," jelas Nanang.

Nanang menambahkan, tujuan pemeriksaan ibu hamil, untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Pencegahannya melalui  progran PPIA. Ini supaya ada pencegahan penularan HIV/AIDS  dari ibu ke anak. Jadi, setia ada ibu hamil yang positif, akan langsung diberikan obat anti ARV. Saat ini, penyakit Hepatitis B pada ibu hamil, sudah tembus 330 orang. 

Halaman:

Editor: donramdhani

Terkini

Garut PPKM Level 2, Helmi Budiman: Jangan Lengah!

Senin, 20 September 2021 | 19:51 WIB
X