• Selasa, 19 Oktober 2021

Catat, Ini Wilayah Rawan Pergerakan Tanah di Purwakarta

- Minggu, 1 November 2020 | 15:30 WIB
ilustrasi/net
ilustrasi/net

INILAH, Purwakarta – Intensitas hujan yang turun di Kabupaten Purwakarta mulai menunjukan peningkatan sejak beberapa hari terakhir ini. Kondisi tersebut patut diwaspadai. Mengingat, beberapa wilayah di kabupaten ini rawan bencana alam di kala pergantian musim seperti sekarang ini.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DOKPB) Kabupaten Purwakarta Wahyu Wibisono menuturkan, saat ini jajarannya telah pasang mata dan mulai menyiapkan berbagai langkah antisipasi guna menghadapi bencana alam musiman ini. Salah satu bencana alam yang paling diantisipasi adalah pergerakan tanah atau longsor.

“Memasuki musim penghujan ini, longsor menjadi bencana alam yang paling kami waspadai,” ujar Wahyu kepada wartawan, akhir pekan kemarin.

Wahyu menjelaskan, pihaknya telah memetakan wilayah yang rawan pergerakan tanah ini. Di wilayahnya sendiri, terdapat tiga jenis zona gerakan tanah. Yakni, zona hijau (kerentanan gerakan tanah rendah), zona kuning (kerentanan gerakan tanah sedang), serta zona mereh (kerentanan gerakan tanah tinggi).

“Dari semua wilayah ini, yang diwaspadai adalah zona merah dan kuning. Untuk wilayah zona merah, tersebar di beberapa desa. Desa-desa ini, terdapat di 13 dari 17 kecamatan yang ada ,” jelas dia.

Adapun 12 kecamatan yang dimaksud yaitu Kecamatan Cibatu, Darangdan, Jatiluhur, Kiarapedes, Wanayasa, Pondoksalam, Pasawahan, Sukasari, Sukatani, Maniis, Tegalwaru, Plered dan Kecamatan Purwakarta kota.

“Sedangkan untuk wilayah yang zona kuning atau kerentanan gerakan tanah sedang, itu berada di dua kecamatan. Yakni, Babakan Cikao dan Bojong. Kemudian, yang kategori sedang-rendah, itu di Kecamatan Campaka dan Bungursari. Jika melihat peta, seluruh wilayah memang berpotensi longsor,” terang dia.

Dia menuturkan, untuk wilayah rawan longsor ini kebanyakan berada di daerah perbukitan yang kontur tanahnya jenis lempung. Sehingga, saat diguyur hujan, tanah tersebut bisa menjadi medan luncur. Sehingga, wilayah-wilayah tersebut sejauh ini jadi pengawasan jajarannya.

Wahyu menambahkan, saat ini pihaknya telah menguatkan komunikasi dengan seluruh pihak terkait sebagai langkah antisipasi guna meminimalisasi dampak yang timbul dari bencana alam di pergantian musim ini. Termasuk, menyiagakan pasukan gabungan yang terdiri dari unsur TNI/Polri, BPBD, Tagana, termasuk relawan dari forum relawan penanggulanga bencana dan pramuka.

Halaman:

Editor: donramdhani

Terkini

BOR Kasus Covid-19 di RS di Garut Tersisa 3,68 Persen

Senin, 18 Oktober 2021 | 19:30 WIB

Demi Level PPKM Turun, Garut Kebut Vaksinasi Covid-19

Minggu, 17 Oktober 2021 | 16:06 WIB
X