• Senin, 6 Desember 2021

Pandemi Covid-19, Momentum Setop Kekerasan pada Perempuan dan Anak

- Jumat, 18 Desember 2020 | 18:10 WIB
Foto: Zainulmukhtar
Foto: Zainulmukhtar

INILAH, Garut - Dari berbagai dampak terjadi akibat pandemi Covid-19, kaum perempuan relatif paling terdampak dibandingkan laki-laki. Padahal, perempuan memiliki posisi penting dalam menghadapi krisis akibat pandemi Covid-19 tersebut. 

Akibat covid-19, pemutusan hubungan kerja (PHK) terdahap karyawan terjadi di mana-mana. Kemiskinan meningkat. Semua anggota keluarga mesti tinggal di rumah, atau lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Para ibu mendadak mesti menjadi guru mengajari anak belajar di rumah karena anak tak bisa belajar dengan tatap muka di sekolah. Risiko kekerasan dalam rumah tangga pun meningkat. Perempuan mengalami stress luar biasa. Terlebih, perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Baik yang masih tetap bekerja maupun yang terkena PHK.

Padahal, dalam kondisi normal sebelum pandemi Covid-19 pun, perempuan selalu berhadapan dengan kemungkinan pelecehan dan kekerasan. 

Dengan kondisi seperti itu, seyogyanya kaum perempuan mendapatkan perhatian lebih agar bisa bertahan menghadapi berbagai dampak perubahan akibat pandemi Covid-19 yang entah kapan akan berakhir. Saatnya bagi kaum pria/suami berbagi fungsi dan peran domestiknya dalam keluarga, khususnya berkaitan pengasuhan anak. Jangan biarkan semua beban domestik ditanggungkan kepada perempuan. Suami, isteri, ayah, dan ibu, semuanya memunyai peran setara dalam mengasuh anak.

Hal itu mengemuka pada webinar Pandemi Covid-19 dan Perlindungan terhadap Perempuan digelar BBC Media Action kerja sama Dewan Pers pada 27 Novemer 2020.

Menurut Peneliti dari Universitas Padjajaran (Unpad) Binahayati Rusyidi, persoalan dihadapi perempuan bertambah dengan kebijakan program pemerintah lebih terfokus pada bagaimana mengatasi daerah yang langsung terdampak Covid-19. Hal itu membuat isu kekerasan terhadap perempuan kurang mendapatkan perhatian karena berkompetisi dengan isu lebih besar, semisal isu pemotongan alokasi dana pembangunan. 

"Covid-19 bagi saya merupakan titik poin untuk memperhatikan (isu) kekerasan pada perempuan. Dampak Covid-19 semakin memarjinalkan perempuan dalam masyarakat," ujar pengajar pada Departemen Kesejahteraan Sosial FISIP Unpad itu.

Tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia juga dikemukakan Sekretaris Kemen PPPA Pribudiarta Nur Sitepu. 

Dia menyebutkan, kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan merupakan fenomena gunung es. Mengutip hasil survey Badan Pusat Statistik (BPS), satu dari dua perempuan di Indonesia mengalami kekerasan namun mereka tak mau melapor atau mengadukannya. Sehingga unit layanan penting mampu mendorong perempuan dan anak berani mengadu, dan upaya pencegahan menjadi jauh lebih penting. Kepedulian terhadap perempuan dan anak tak bisa dikerjakan parsial melainkan harus menjadi gerakan nasional melibatkan semua stake holder. 

Halaman:

Editor: donramdhani

Terkini

Vaksinasi Lansia di Garut Mencapai 60,6 Persen

Minggu, 5 Desember 2021 | 10:18 WIB

Pemkab Bekasi Salurkan Bantuan ke Yayasan ODGJ Tambun

Jumat, 3 Desember 2021 | 10:47 WIB

Lima Sembuh, Kasus Aktif Covid-19 di Garut Menurun

Jumat, 3 Desember 2021 | 09:51 WIB

Rudy Gunawan Sebut Angka Kemiskinan di Garut Naik

Kamis, 2 Desember 2021 | 16:00 WIB

Ribuan Buruh Pabrik Rokok Peroleh BLT dari DBHCHT

Rabu, 1 Desember 2021 | 16:10 WIB
X