• Rabu, 20 Oktober 2021

Petani Cirebon Keluhkan Pupuk Bersubsidi, Imron Minta Maaf

- Senin, 27 September 2021 | 12:58 WIB
Bupati Cirebon Imron (INILAH/Maman Suharman)
Bupati Cirebon Imron (INILAH/Maman Suharman)
INILAHKORAN, Cirebon - Pemkab Cirebon mengaku optimistis dengan program penyaluran subsidi pupuk melalui Kartu Tani. Program tersebut bakal meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Selain itu, bisa pula mendorong kesejahteraan para petani.
 
Hal tersebut disampaikan Bupati Cirebon Imron, saat menghadiri Hari ke-61 Tani Nasional di Desa Jagapura, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, Senin.  Saat menghadiri acara tersebut, Imron mendapatkan banyak keluhan dari petani. Salah satunya, kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi  bantuan dari pemerintah daerah, pemerintah provinsi hingga pemerintah pusat.
 
"Kami mengingatkan petani agar bisa tertib administrasi, salah satunya yaitu, memiliki Kartu Tani," kata Imron.
 
Menurut Bupati Cirebon, adanya Kartu Tani bukan cara pemerintah untuk mempersulit para petani. Namun merupakan salah satu upaya mencegah bantuan supaya  tidak salah sasaran. 
 
 
"Agar bisa mendapatkan bantuan pupuk bersubsidi, petani harus menunjukkan Kartu Tani. Kalau tidak, dikhawatirkan bakal disalahgunakan seperti diperjualbelikan kembali," ungkapnya.
 
Dalam kesempatan itu, Imron juga meminta maaf kepada seluruh petani di Kabupaten Cirebon. Pasalnya,  karena saat pandemi ada pengurangan bantuan pertanian. Hal ini diakibatkan adanya refocusing anggaran untuk penanganan pandemi Covid-19. Namun Imron berjanji, nasib petani akan terus diperjuangkan
 
"Saya sendiri berkomitmen kepada para petani. Saya akan berusaha sebisa mungkin memperjuangkan nasib petani," jelasnya.
 
Sementara itu Anggota DPR, Ono Surono, mengatakan, selama ini petani di Indonesia khususnya di Kabupaten Cirebon rata-rata berumur 50 tahun keatas. Bahkan, hanya sebagian kecil yang umurnya di bawah 40 tahun yang menggeluti pekerjaan sebagai petani. Ini diakibatkan karena kurangnya regenerasi di kalangan petani itu sendiri. 
 
 
"Di masa pandemi Covid-19 justru petani diuntungkan, karena anak muda yang bekerja di luar kota berbondong-bondong pulang kampung untuk bekerja menjadi petani. Sebab, pekerjaan di kota semuanya tutup karena dampak pandemi. Kan rata-rata anak muda itu lebih banyak bekerja merantau keluar kota, dibandingkan di kampungnya sendiri," ungkap Ono.
 
Ono menambahkan,  saat ini petani  kurang maksimal dalam masalah permodalan. Hal itu karena ongkos produksinya sangat tinggi. Namun kalau saja tanah milik sendiri, airnya gampang, pupuk mudah didapat, dipastikan harga gabah akan bagus. Akan tetapi pada saat lahannya sewa, air pakai sistem proyek, otomatis penghasilan petani menurun.
 
"Penghasilan petani sebulan bisa tiga juta , kalau lahannya milik sendiri dan pupuknya lancar. Tapi kalau sebaliknya, paling sebulan hanya satu setengah juta," tukas Ono. (maman suharman)
 
 

Editor: Zulfirman

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X