• Selasa, 30 November 2021

SMPN 1 Sumber Pakai Dana Talangan Bangun Sarana Sekolah, Ortu Siswa Kecewa Banyak Pungutan

- Jumat, 8 Oktober 2021 | 11:35 WIB
Plt Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 1 Sumber Kabupaten Cirebon, Didin Jaenudin. (Maman Suharman)
Plt Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 1 Sumber Kabupaten Cirebon, Didin Jaenudin. (Maman Suharman)
INILAH, Cirebon - Plt Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 1 Sumber Kabupaten Cirebon, Didin Jaenudin mengaku beberapa sarana dan prasarana sekolah memakai dana talangan. Secara terang terangan dirinya mengaku  dana talangan tersebut memakai uang pribadinya sekitar Rp65 juta.
 
"Ia saya akui beberapa sarana prasarana sekolah pakai uang saya sendiri. Ini kan supaya sekolah semakin maju," kata Didin, Jumat 8 Oktober 2021.
 
Didin menjelaskan awalnya ada program renovasi tanpa bantuan pemerintah. Lalu pihaknya membicarakan dengan pihak guru tentang anggarannya dari mana.  Namun karena dirinya ada uang lebih, maka beberapa program akhir dibiayai oleh uang dirinya sendiri.
 
 
"Kita bangun lab, payung teduh, pendopo dan renovasi sebanyak 32 WC.Kekurangannya kan kita pakai uang sodakoh jariah. Kan sehari bisa sih dapat satu juta dari uang sodakoh tersebut. Tapi uang saya juga harus dikembalikan ke saya, ini kan uang pribadi," aku Didin.
 
Didin mengakui, pengembalian uang tersebut dilakukan secara dicicil. Masalahnya, kalau meminjam ke bank, tetap harus membayar bunganya. Dirinya juga mengaku belum mengetahui persoalan siswa terkait masalah buku. Masalahnya, siswa yang tidak membeli buku, harus menyalin soal. Sementara siswa yang sudah membeli buku, hanya menulis jawabannya saja.
 
"Kalau masalah siswa yang harus membeli buku, nanti saya rapatkan lagi dengan guru. Saya kan tidak tiap hari terjun ke bawah. Saya juga masih Kepsek SMPN Lemahabang, jadi kerjanya repot," ungkapnya.
 
 
Sementara, Anto, salah satu orang tua siswa yang saat itu melakukan klarifikasi ke Didin, mengaku kecewa dengan banyaknya pungutan berkedok sumbangan di sekolah anaknya tersebut. Malahan, untuk mengganti engsel pintu saja akunya, guru meminta bantuan kepada siswa. Belum lagi buku paket yang harganya, melambung tinggi.
 
"Saya pernah beli buku paket dari luar, dan bukan beli di koperasi siswa. Harganya hanya Rp400 ribu. Sementara kalau beli di koperasi sekolah anak saya, harganya sampai Rp800 ribu. Ini kan aneh, padahal sama saja jenisnya," ungkap Anto.
 
Anto juga mengungkapkan alasan, kenapa saat rapat orang tua, banyak yang tidak protes. Alasannya aku Anto, mereka takut ada masalah dengan anak-anaknya saat disekolah. Mereka memilih diam, dan hanya menuruti apa yang di pinta pihak sekolah. 
 
 
"Yang paling kecewa kan saat pembelajaran online. Eh malah ditagih untuk membeli buku sekitar Rp600 ribuan. Sudah tahu kan sedang daring, tapi harus membeli buku," ucapnya.
 
Sementara itu, Kadisdik Kabupaten Cirebon, Deni Supdiana menilai, dana talangan sah saha saja karena tidak menggunakan dana APBD. Masalahnya yang namanya iuran dan sodakoh adalah kesepakatan orang tua siswa. Karena kebiasaannya seperti itu, mungkin saja Kepala Sekolah memberikan dana talangan dari dirinya.
 
 
"Yang jadi masalah adalah, kenapa anda mempertanyakan itu dan memperkeruh suasana. Pertanyaan anda adalah bukan konteks perkawanan," tukasnya tiba-tiba.*** (maman suharman)
 
 

Editor: Bsafaat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Risih, Ratusan Ribu Lembing Batu Serang Warga Cirebon

Kamis, 25 November 2021 | 16:10 WIB
X