Banjir Bandang Garut, Diduga Kuat Alih Fungsi Lahan Milik 'Pejabat' Jadi Penyebabnya...

Diduga banjir bandang Garut yang menerjang dua Kecamatan, Karangtengah dan Sukawening akibat alih fungsi lahan milik pejabat setempat.

Banjir Bandang Garut,  Diduga Kuat Alih Fungsi Lahan Milik 'Pejabat' Jadi Penyebabnya...
Wagub Jabar Uu Ruzhanul Ulum bersama Wabup Garut Helmi Budiman saat meninjau banjir bandang Garut di dua kecamatan, Minggu 28 November 2021.

INILAHKORAN, Bandung- Mulai terungkap, penyebab utama banjir bandang Garut yang menerjang Kecamatan Karangtengah dan Sukawening.

Sabtu 27 November 2011 sore WIB, banjir bandang Garut membuat panik warga Karangtengah dan Sukawening.

Belakangan, sejumlah kalangan menduga banjir bandang Garut terjadi tak hanya karena curah hujan dalam intesitas tinggi yang melanda Karangtengah dan Sukawening.

Sejumlah tokoh di Karangtengah dan Sukawening menyebut daerah mereka tak pernah diterjang bencana banjir dalam 10 tahun terakhir.

Baca Juga: Banjir Bandang Garut Dipicu Longsor di Desa Cinta dan Cintamanik

"Persisnya mengapa bisa terjadi? Saya enggak tahu. Hanya kalau menurut beberapa pihak, bisa jadi akibat terjadi alih fungsi lahan di kawasan hutan di atas di Karangtengah. Banjir di kami kan banjir kiriman dari daerah sana," kata Kepala Desa Mekarwangi Kecamatan Sukawening Sani, Minggu 29 November 2021.

Di Desa Mekarwangi sendiri, lanjutnya, daerah terdampak banjir bandang itu di Kampung Ciloa yang memang berada di pinggir sungai. Berjarak sekitar 5-8 meter dari bibir sungai Citameng.

Ada sebanyak 38 unit rumah dan satu bangunan masjid sempat terendam banjir berketinggian air sekitar satu meter.

Padahal kalaupun debit air pada sungai dengan tebingnya berketinggian sekitar tiga meter itu naik, airnya tak pernah meluber.

Baca Juga: Banjir Bandang Karang Tengah, Curah Hujan Masih Tinggi, Pak Camat Tunggu Bantuan BPBD

"Saya juga sempat bertanya pada tokoh-tokoh sepuh. Di daerah kami belum pernah terjadi bencana alam banjir bandang sehebat ini. Tanggul jebol, air sungai meluap sampai merendam rumah-rumah warga, Baru kali ini terjadi," ujar Sani.

Ketua Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia Distrik Garut Ganda Permana bahkan menuding penyebab banjir bandang di dua kecamatan di bagian timur Garut itu adanya alih fungsi lahan.

Menurutnya, pembangunan kawasan pertanian, perternakan, dan perikanan terpadu milik pejabat eksekutif Garut seluas sekitar 30 hektare di Desa Cinta Kecamatan Karangtengah, jadi penyebab banjir bandang.

Baca Juga: Baru Saja Banjir Bandang Terjang Karang Tengah Garut, Rumah Warung Hancur, Mobil Hanyut

"Ngakunya sih lahannya semuanya tanah pribadi. Tak ada penambahan luas tanah, tapi hanya tanah lama yang digeser-geser," kata Ganda.

Berkaitan dugaan bencana banjir bandang di Karantengah dan Sukawening akibat alih fungsi lahan, Wakil Bupati Garut Helmi Budiman mengatakan, pihaknya segera melakukan evaluasi.

"Harus dievaluasi. Tapi secara kasat mata, kita menyimpulkan bahwa harus banyak tegakan lagi. Tadi juga Pak Wagub sudah diskusikan kepada dinasnya, Dinas Kehutanan, untuk bersama sama dengan Kabupaten Garut memperbanyak tindakan tegas," kata Helmi.

Menurut Helmi, Pemkab Garut juga akan melakukan langkah tanggap darurat bencana selama tujuh hari ke depan untuk penanggulangan bencana banjir yang berdampak pada sekitar 307 unit rumah Karangtengah dan Sukawening itu.

Baca Juga: Kabupaten Bogor Siaga Banjir Bandang, Ini Imbauan Bupati Ade Yasin untuk Warga

Di tempat sama, Wagub Uu mengatakan, sebagai tindakan tanggap darurat maka pihaknya terlebih dahulu akan membersihkan material paskabanjir dengan dilakukan pengerukan sungai ataupun solokan kecil agar meminimalisir terjadinya bencana banjir kembali.

"Karena secara kasat mata dari atasnya besar. Dari hulu ada penyempitan di sini. Sehingga air datangnya begitu banyak dan cepat balik lagi karena penyempitan. Ini minta disodet !" ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Uu memberikan bantuan berupa dana bantuan beserta sembako untuk para korban terdampak bencana yang disalurkan melalui pemerintah daerah.(zainulmukhtar)


Editor : inilahkoran