• Minggu, 5 Desember 2021

Sejarah Panjang Tradisi Kafir di Tahun Baru

- Senin, 21 Desember 2020 | 18:00 WIB
Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net

BEBERAPA hari lagi kita akan menyaksikan perayaan besar, perayaan yang dilangsungkan secara massif oleh masyarakat di seluruh dunia. Ya, itulah perayaan tahun baru yang secara rutin disambut dan dimeriahkan dengan berbagai acara dan kemeriahan.

Perayaan tahun baru masehi memiliki sejarah panjang. Banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan hari itu tidak mengetahui kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan latar belakang mengapa hari itu dirayakan. Kegiatan ini merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. (G Capdeville "Les pithetes cultuels de Janus" inMlanges de lcole franaise de Rome (Antiquit), hal. 399-400)

Fakta ini menyimpulkan bahwa perayaan tahun baru sama sekali tidak berasal dari budaya kaum muslimin. Pesta tahun baru masehi, pertama kali dirayakan orang kafir, yang notabene masyarakat paganis Romawi. Acara ini terus dirayakan oleh masyarakat modern dewasa ini, walaupun mereka tidak mengetahui spirit ibadah pagan adalah latar belakang diadakannya acara ini. Mereka menyemarakkan hari ini dengan berbagai macam permainan, menikmati indahnya langit dengan semarak cahaya kembang api, dsb.

Turut merayakan tahun baru statusnya sama dengan merayakan hari raya orang kafir. Dan ini hukumnya terlarang. Di antara alasan statement ini adalah: Pertama, turut merayakan tahun baru sama dengan meniru kebiasaan mereka. Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang kita untuk meniru kebiasaan orang jelek, termasuk orang kafir. Beliau bersabda, "Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut." (Hadis sahih riwayat Abu Daud)

Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan, "Siapa yang tinggal di negeri kafir, ikut merayakan Nairuz dan Mihrajan (hari raya orang majusi), dan meniru kebiasaan mereka, sampai mati maka dia menjadi orang yang rugi pada hari kiamat."

Baca juga

Menafsirkan Al-Quran Tanpa Ilmu, Hukumnya?


Harta Melimpah Belum Tentu Berkah


Memperkosa Istri Zalim Tapi tidak Berdosa

Halaman:

Editor: Bsafaat

Tags

Terkini

Inilah Amalan-amalan Penghapus Dosa di Hari Jumat

Jumat, 26 November 2021 | 04:45 WIB
X