• Minggu, 26 September 2021

Keturunan Rasulullah, Sang Ahli Sujud

- Selasa, 20 April 2021 | 14:00 WIB

TAHUN itu, tamatlah riwayat kekaisaran Persia. Yazdajird, kaisar terakhir Persia wafat di pengasingan, sementara seluruh harta, prajurit dan kerabat istana menjadi tawanan kaum muslimin. Semuanya diangkut ke Madinah al-Munawarah.

Kemenangan kaum muslimin itu menghasilkan tawanan yang berjumlah banyak, dari kalangan terhormat dan belum pernah penduduk Madinah melihat hasil ghanimah sebanyak dan begitu berharga seperti itu. Di antara para tawanan tersebut terdapat pula tiga orang putri Kaisar Yazdajird.

Orang-orang memperhatikan para tawanan tersebut dan beberapa saat kemudian sebagian mereka ikut membelinya, sedangkan bayarannya dimasukkan ke baitul maal kaum muslimin. Tidak ada lagi yang tertinggal selain para putri kaisar yang sangat jelita lagi masih belia.

Ketika ditawarkan untuk dijual, mereka semua tertunduk ke bumi merasa hina dan rendah. Air mata meleleh dari kedua pipi mereka.

Ali bin Abi Thalib merasa iba melihatnya dan berharap semoga orang yang akan membeli para putri itu adalah orang yang bisa menghargai martabat mereka dan sanggup memelihara mereka dengan baik, sebab Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, "Kasihanilah para bangsawan yang terhina."

Dengan segera beliau mendekati Amirul Mukminin Umar bin Khathab dan mengusulkan: "Para putri kaisar itu sebaiknya tidak diperlakukan seperti tawanan lainnya." Umar radhiyallahu anhu berkata, "Engkau benar, tapi bagaimana caranya?" Ali berkata, "Umumkan harga mereka setinggi mungkin, lalu beri mereka kebebasan untuk memilih orang yang bersedia membayarnya."

Saran Ali disetujui dan segera dilaksanakan oleh Umar. Putri yang pertama memilih Abdullah bin Umar, putri kedua memilih Muhammad bin Abu Bakar, sedangkan ketiga yang dipanggil dengan Syah Zinaan memilih Husein bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, cucu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Tak lama setelah itu, putri yang ketiga langsung memeluk Islam dan bagus keislamannya. Sehingga dia beruntung dengan agama yang lurus, juga dimerdekakan dan dijadikan istri oleh Husein setelah tadinya berstatus budak. Setelah itu dia tanggalkan segala hal yang berkaitan dengan paganisme (penyembahan berhala) dan mengganti nama "Syah Zinan" yang berarti ratunya para wanita menjadi "Ghazalah."

Ghazalah amat bahagia menjadi istri dari suami yang paling baik dan paling layak untuk mendapatkan putri raja. Sehingga tiada lagi yang dia cita-citakan selain mendapatkan karunia anak.

Halaman:

Editor: Bsafaat

Tags

Terkini

Memaksa kepada Allah Agar Dijodohkan dengan Wanita Idaman

Selasa, 21 September 2021 | 11:02 WIB
X