• Selasa, 28 September 2021

Kesalahan Memaknai Puasa 9 Dzulhijjah dan Wukuf

- Minggu, 11 Juli 2021 | 18:00 WIB

MEMANG ada sebagian orang yang berpandangan bahwa ada korelasi kuat dan mengikat antara puasa tanggal 9 Dzulhijjah dengan peristiwa wuquf di Padang Arafah. Seolah-olah puasa sunah itu harus mengacu kepada kejadian wuquf. Lalu puasa itu harus mengikuti wuqufnya.

Kalau wuquf hari Rabu di Arafah, maka orang sedunia harus ikut jadwal itu dengan berpuasa pada hari Rabu. Sebaliknya bila di Arafah wuquf hari Selasa misalnya, maka umat Islam sedunia harus berpuasa di hari Selasa.

Padahal kalau kita rujuk kepada bagaimana proses pensyariatan puasa tanggal 9 Dzulhijjah dan wuquf di Arafah, sesungguhnya kita akan menemukan faktwa bahwa antara kedua jenis ibadah itu sama sekali tidak ada kaitannya. Kita tidak menemukan dalil yang mewajibkan puasa dengan cara ikut orang wuquf atau sebaliknya. Karena kedua jenis ibadah itu disyariatkan secara terpisah dan sendiri-sendiri.

Puasa sunah pada tanggal 9 Dzulhijjah itu sudah disyariatkan jauh sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berhaji dan melaksanakan wuquf. Puasa itu menurut banyak riwayat telah mulai disyariatkan sejak tahun kedua hijriyah. Di tahun itu ada beberapa jenis ibadah yang berbarengan disyariatkan, seperti puasa bulan Ramadan, Shalat Idul Fitri dan Idul Adha serta puasa tanggal 9 Dzulhijjah.

Sedangkan wuquf yang dilakukan oleh Rasulullah belum disyariatkan di masa itu. Sebab Rasul dalam posisinya sebagai pembawa wahyu dari langit baru berhaji di tahun kesepuluh hijriyah. Ada rentang waktu kurang lebih sembilan tahun lamanya.

Artinya ketika di tahun-tahun kedua, ketiga hingga kesembilan Dzulhijah, Rasulullah dan para sahabat melaksanakan puasa sunah, pada saat itu di Arafah tidak ada jemaah haji yang wuquf. Arafah saat itu kosong tidak ada ritual haji. Kalau puasa sunah tanggal 9 Dzulhijjah harus mengacu kepada acara ritual wuquf di Arafah, maka seharusnya Rasul dan para sahabat tidak perlu berpuasa sunah tanggal 9 Dzulhijjah.

Memang benar bahwa bangsa Arab sejak masa Nabi Ibrahim alaihissalam masih menjalankan ibadah haji. Dan salah satu ritualnya adalah wuquf di Arafah. Namun penting sekali untuk dicatat disini bahwa bangsa Arab sebelum Rasulullah melaksanakan haji tidaklah berhaji di bulan Dzulhijjah.

Mereka terbiasa mengubah dan mengotak-atik jadwal ritual haji tiap tahunnya. Kadang haji mereka selenggarakan di bulan Dzulqa'dah, kadang di bulan Syawal dan seringkali di bulan-bulan lainnya. Dan karena itulah maka Allah Ta'ala menyalahkan bangsa Arab yang suka menggonta-ganti jadwal ibadah haji tiap tahun. Di dalam Alquran Allah berfirman:

"Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (QS. At-Taubah: 37)

Halaman:

Editor: Bsafaat

Tags

Terkini

X