• Jumat, 24 September 2021

Ketika Musibah adalah Peringatan

- Jumat, 23 Juli 2021 | 16:30 WIB

Musibah menjadi peringatan bagi orang-orang yang meyakini Allah sebagai Rabb-nya, akan tetapi keyakinannya tidaklah kuat. Lisannya berikrar  syahadatain, tubuhnya menjalankan salat, tetapi hatinya mudah sekali goyah dan terbawa godaan syaitan.

Sehingga ia pun mudah begitu saja terbawa kemaksiatan. Lisannya mudah saja melontarkan ucapan kotor, akrab dengan ghibah dan fitnah. Bagi orang-orang seperti ini, musibah yang datang merupakan peringatan agar ia kembali kepada Allah dan memperkuat keimanan kepada-Nya.

Allah SWT berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Ruum [30]: 41).

Saudaraku, sangat mungkin iman kita masih rapuh, sangat mungkin hati kita masih mudah goyah tergoda oleh perhiasan dunia, sehingga lebih mendahulukan kesenangan dunia daripada kesenangan akhirat. Maka, betapa besarnya kasih sayang Allah kepada kita manakala suatu musibah datang menimpa. Karena artinya Allah sedang memperhatikan kita, dan sedang mengingatkan kita untuk memohon ampunan kepada-Nya atas kelalaian kita, sehingga kita bisa kembali mendekat dengan-Nya. Masya Allah!

Tidakkah kita melihat hikmah yang indah ini? Kita adalah makhluk yang mudah sekali terjerumus pada kesalahan dan berselimut dosa. Namun, selalu terbentang jalan yang luas bagi kita untuk bertobat selama belum tiba hari kiamat. Allah SWT mustahil zalim terhadap makhluk-Nya, sehingga berbagai keburukan yang terjadi pada diri kita itu adalah buah dari keburukan kita sendiri.

Karena Allah berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuraa [42]: 30).

Saudaraku, sesungguhnya Allah SWT sangat ingin kita, hamba-hamba-Nya, hidup selamat dan bahagia di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Allah turunkan al-Quran secara sempurna, dan Allah utus pula para nabi dan rasul untuk secara langsung membimbing kita ke jalan yang Ia ridai. Allah jelaskan mana yang halal dan haram. Allah terangkan pula mana amal-amal yang mengantarkan kepada kebahagiaan, dan mana amal-amal yang mengundang datangnya kesengsaraan.

Allah memerintahkan kita untuk tidak berbuat zalim, untuk membantu sesama dan menjauhkan diri dari perbuatan aniaya, baik itu terhadap manusia, binatang maupun alam. Semua itu adalah untuk kebaikan dan keselamatan kita sendiri, karena kebaikan akan kembali kepada pelakunya. Namun, demikian juga sebaliknya, keburukan pun kembali kepada pelakunya.

Maka, ketika ada musibah, kepahitan menimpa kita, hal terpenting yang harus dilakukan adalah memeriksa ke dalam diri dan bertanya, dosa apa yang sudah kita lakukan dan belum ditobati. Demikian juga ketika ada bencana yang terjadi di sekitar kita atau bahkan menimpa kita, periksalah barangkali selama ini kita sudah zalim namun terlanjur dianggap biasa. (Kh Abdullah Gymnastiar)

Halaman:

Editor: Bsafaat

Tags

Terkini

Memaksa kepada Allah Agar Dijodohkan dengan Wanita Idaman

Selasa, 21 September 2021 | 11:02 WIB

Kalau Poligami Boleh, Kenapa Poliandri Tidak?

Senin, 20 September 2021 | 11:37 WIB
X