• Jumat, 17 September 2021

Siksa Pedih Bagi Pejabat Khianat

- Rabu, 28 Juli 2021 | 16:00 WIB

PUTIH tak selalu dipandang indah dan bermakna cantik. Hitam tak selalu dipandang jelek dan bermakna buruk. Kain kafan selalu berwarna putih, dilihat dengan penuh menakutkan, sementara ka'bah berwarna hitam, dilihat dengan penuh kekaguman. Sungguh segala sesuatu itu dinilai bukan karena tampilan luarnya, melainkan arti dan makna yang terkandung di dalamnya.

Pakar psikologi positif sering sekali berbicara tentang the meaning of life (makna kehidupan). Menurut mereka, apa yang manusia dapatkan dan miliki tidaklah cukup menjadikan mereka itu bahagia. Kebahagiaan sesungguhnya akan digapai manakala apa yang didapatkan dan dimiliki memberikan pengaruh positif pada orang lain.

Orang yang menyimpan ilmu, pelit berbagi pengetahuan dengan orang lain dan atau menghindar ketika ditanya seseorang padahal ilmu dan jawabannya dibutuhkan sekali untuk kesempurnaan hidup dinyatakan dalam Islam sebagai orang tak baik yang tak mungkin bahagia dengan hakikat bahagia.

Orang yang memiliki banyak harta namun tak pernah perhatian pada orang fakir miskin di sekelilingnya dalam Islam disebut dengan berkarakter bakhil yang dalam al-Qur'an disejajarkan dengan zina dalam penyebutannya sebagai al-fakhsya'. Orang bakhil itu dibenci manusia dan tidak disukai Allah.

Orang yang memiliki banyak jabatan namun tidak pernah berbuat untuk kemaslahatan orang lain dengan jabatannya itu, mereka dalam Islam disebut sebagai pejabat yang khianat yang diancam akan mendapatkan siksa pedih. Mengkhianati sumpah jabatan itu sangat mudah dibaca oleh publik.

Rakyat tak butuh data angka untuk melihat ada tidaknya pengkhianatan, mereka cukup melihat pada sedikit banyaknya jalan rusak dan berlubang, naik turunnya harga sembako, mandeg tidaknya pembangunan, dan sering tidaknya para pejabat pelesiran. Salam, AIM. [*]

Editor: Bsafaat

Tags

Terkini

X