• Sabtu, 16 Oktober 2021

Apapun Pekerjaan Kita, Jauhilah Budaya Buruk Kaum Yahudi yang Satu Ini

- Jumat, 30 Juli 2021 | 13:00 WIB
Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net

KITA diharamkan mengikuti budaya kaum-kaum kafir termasuk Yahudi. Itu disabdakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadist berikut:

Dari Ibnu Umar berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari kaum itu." (HR Abu Daud dan Ibnu Hibbab menshahihkannya). 

Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Kalian benar-benar akan mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai mereka masuk ke lubang biawak pun kalian tetap mengikuti mereka." Kami bertanya: "Apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Siapa lagi?" (HR. Bukhari No. 3456, 7320, Muslim No. 2669)

Maka, mulai pelajarilah budaya-budaya kaum kafir yang merebak di Indonesia. Dan salah satunya adalah budaya suap atau uang sogok yang sudah menjadi budaya dan tradisi yang mendarahdaging di bangsa Yahudi.

"Mereka itu (orang-orang Yahudi) adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan as-suht" (QS. Al-Maidah [5]: 42).

Dikutip muslim.or.id, dalam Tafsir Jalalain disebutkan bahwa yang dimaksud dengan ([as-suht] ) adalah harta haram, yaitu risywah (uang suap atau uang sogok) (Tafsir Jalalain, 1/144).

Ibnu Katsir rahimahullah juga menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ([as-suht] ) adalah harta haram, yaitu risywah, sebagaimana penjelasan shahabat Ibnu Masud radhiyallahu anhu (Tafsir Ibnu Katsir, 3/106).

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata tentang ayat di atas,

"Para hakim dari kalangan bangsa Yahudi dulu, jika mereka didatangi seseorang (salah satu pihak yang memiliki perkara atau bersengketa, pen.) dengan membawa uang suap yang disembunyikan di balik lengan bajunya untuk kemudian diperlihatkan (uang suap tersebut) kepada sang hakim, maka orang yang membawa uang suap itu lalu menyampaikan keperluannya (yaitu, menyampaikan tuntutannya). Hakim (yang sudah disuap tersebut, pen.) hanya mendengarkan perkataan orang yang memberi suap dan tidak melihat kepada kasus yang mereka tangani (artinya, tidak memperhatikan lagi pihak lawan yang tidak membawa suap). Mereka suka mendengar perkataan dusta dan memakan uang suap." Beliau rahimahullah juga berkata,"Yang demikian itu hanyalah dalam masalah hukum. Mereka disuap untuk mengubah yang salah menjadi benar, atau mengubah yang benar menjadi salah" (Tafsir Al-Baghawi, 3/58).

Halaman:

Editor: Bsafaat

Tags

Terkini

Air Mani Perempuan, Begini Ciri-cirinya dalam Islam

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:12 WIB
X