• Selasa, 26 Oktober 2021

Susahnya Nagih Utang ke Kawan atau Kerabat Sendiri, Solusinya dalam Islam?

- Minggu, 26 September 2021 | 11:02 WIB
Perhitungan utang suami ke istri yang bikin mikir keras. (Facebook/ Ferdi Al-Hafiz)
Perhitungan utang suami ke istri yang bikin mikir keras. (Facebook/ Ferdi Al-Hafiz)

INILAHKORAN, Bandung- Mungkin kita pernah berada di situasi seperti ini. Meminjamkan uang kepada kerabat atau teman tetapi mereka susah sekali mengembalikannya. Situasi seolah terbalik, seperti kita yang punya dosa karena mereka marah ketika ditagih. Solusinya dalam islam?

Ustaz Farid Nu'man Hasan mengungkapkan, sebenarnya memberikan utang kepada mereka yang membutuhkan adalah amalan mulia. Mminjamkan utang bagian dari memudahkan dan mengeluarkan manusia dari kesulitan hidupnya, dan ganjarannya sangat luar biasa. Jangan lupa, adanya orang susah merupakan ujian atas kedermawanan kita.

Sebagaimana riwayat berikut: Dari Abu Hurairah Radhiallahuanhu, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam bersabda:

"Siapa yang membantu menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari sebuah kesulitan di antara berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan salah satu kesulitan di antara berbagai kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hambaNya selama hambaNya itu menolong saudaranya." (HR. Muslim No. 2699)

Baca Juga: Terlilit Utang Rentenir? Segera Laporkan ke Nomor Ini!

Tapi, lanjut Ustaz, jika ada yang menjadikan utang sebagai barang permainan, menggampang-gampangkannya, bahkan mereka enggan membayarnya atau tidak ada itikad baik untuk melunasinya, maka itu sama juga mencuri.

Perhatikan riwayat berikut, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Barang siapa yang menikahi wanita wajib memberikan mahar, dan dia berniat tidak membayarkan maharnya kepadanya (si wanita), maka dia adalah pezina. Dan barang siapa yang berutang dan dia berniat tidak membayarkan kepada yang mengutanginya, maka dia pencuri." (HR. Al Bazzar , 2/163, dan lainnya, dari Abu Hurairah. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib, No. 1806)

Baca Juga: Utang Menumpuk? Ini Doa Dahsyat yang Diajarkan Nabi untuk Mengatasinya

Kesimpulannya menurut Ustaz, 'Untuk memberikan pelajaran atau mendidik agar mereka mandiri dan belajar tanggungjawab, maka Anda berhak tidak meminjamkannya. Tapi, jika meminjamkannya, walau tahu risiko mereka tidak akan membayarkannya, lalu Anda membebaskannya, maka itu luar biasa."***

Halaman:

Editor: Bsafaat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Makna Asmaul Husna Al Haasib, Penjelasan dari Aa Gym

Senin, 25 Oktober 2021 | 07:00 WIB
X