• Minggu, 5 Desember 2021

Pelajaran dari Kisah Nabi: Jihad-jihad Rasulullah di Bumi Palestina

- Selasa, 19 Oktober 2021 | 11:28 WIB
Masyarakat Palestina berjalan di lapangan Mesjid Al Aqsa, yang dikenal oleh kalangan Muslim sebagai Kubah Shakhrah dan oleh Yahudi disebut Bukit Bait Suci, di Kota Tua Yerusalem. (ANTARA FOTO/REUTERS/Ammar Awad/rwa/cfo)
Masyarakat Palestina berjalan di lapangan Mesjid Al Aqsa, yang dikenal oleh kalangan Muslim sebagai Kubah Shakhrah dan oleh Yahudi disebut Bukit Bait Suci, di Kota Tua Yerusalem. (ANTARA FOTO/REUTERS/Ammar Awad/rwa/cfo)

INILAHKORAN, Bandung- Palestina adalah tanah kaum muslimin! Di sanalah, kiblat pertama serta tempat isra Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Lantas, seperti apa sepak terjang nabi dalam berjihad di bumi penuh keberkahan itu?

Berikut ini pembahasan tentang jihad Rasulullah di tanah palestina seperti dikutip almanhaj.id yang merupakan artikel dari majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyah:

Di saat kemunculan Islam, Palestina saat itu dibawah kekuasaan imperium Romawi yang salibis paganis. Maka merupakan keharusan mensucikan Palestina dari najis-najis mereka. Nabi telah menulis surat kepada Raja Romawi dan mengutus kepadanya beberapa utusan.

Baca Juga: Air Mani Perempuan, Bagaimana Ciri-cirinya dalam Islam?

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengerahkan pasukan dalam jumlah besar, dan Palestina ketika itu termasuk salah satu bagian negeri Syam. Belum terjadi saat itu adanya perbatasan wilayah/area yang dibuat oleh perjanjian ‘Saikus Baiku’. Diantara pasukan-pasukan yang dikirim Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke negeri Syam dan Palestina adalah:

Pertama : Pengiriman pasukan ke Mu’tah Pengiriman pasukan ke Mu’tah yang terjadi pada bulan Jumadil Akhir di tahun kedelapan Hijriah, tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus para pembesarnya ke Mu’tah (suatu tempat di Yordan sekarang yang dekat dengan kota Kurk) suatu desa di negeri Syam, dalam rangka menuntut balas atas pembunuhan kaum muslimin di sana.

Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kempemimpinan kepada maula beliau, Zaid bin Haritsah Radhiyallahu ‘anhu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. إِنْ قُتِلَ زَيْدٌ فَجَعْفَرٌ وَإِنْ قُتِلَ جَعْفَرٌ فَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ “Jika Zaid terbunuh maka Ja’far bin Abi Thalib sebagai penggantinya, jika Ja’far terbunuh, maka Abdullah bin Rawahah sebagai penggantinya” Mereka pun keluar dengan jumlah hampir 3000 pasukan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga turut keluar mengantarkan mereka disebagian jalan, kemudian mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba di Mi’aan (sebuah kota di selatan Yordan, sejauh 200km dari Amman) lalu sampailah kabar kepada mereka bahwa Raja Romawi Heraklius telah keluar bersama seratus ribu pasukan, disertai sekutunya Malik bin Zafilah dengan seratus ribu pasukan lainnya, dari kaum Nashrani Arab, dari suku Lahmin, Judzam dan kabilah Qudlo’ah dari suku Bahra’, Balla dan Balqoin.

Baca Juga: Pelajaran dari Kisah Nabi: Gerakan Salat Rasulullah Saat Diganggu Jin Ifrit

Lantas kaum muslimin bermusyawarah di sana, mereka berkata : “Kita tulis surat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apakah beliau memerintahkan kita dengan perintahnya untuk berperang ataukah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimkan bantuan kepada kita”.

Halaman:

Editor: Bsafaat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Inilah Amalan-amalan Penghapus Dosa di Hari Jumat

Jumat, 26 November 2021 | 04:45 WIB
X