• Kamis, 9 Desember 2021

Kisah Wanita Anshar yang Menolak Berhubungan Intim dengan Gaya Bervariasi

- Kamis, 18 November 2021 | 07:00 WIB
Ada kisah berharga dari zaman Rasulullah tentang gaya berhubungan intim para Pasutri. (Ilustrasi/Net)
Ada kisah berharga dari zaman Rasulullah tentang gaya berhubungan intim para Pasutri. (Ilustrasi/Net)

INILAHKORAN, Bandung- Kisah di zaman Rasulullah ini bisa jadi pelajaran berharga untuk para pasangan suami istri (Pasutri).

Di zaman Rasulullah, ada wanita anshar yang menolak berhubungan intim bersama suaminya yang menginginkan gaya bervariasi.

Diriwayatkan dari Ibn Umar radhiallahu anhu, bahwa ketika syariat Islam turun, masyarakat terdiri dari penyembah berhala, Yahudi dan Nasrani.

Peristiwa hijrah membawa umat dari Mekah ke Madinah. Di Madinah kaum Yahudi dinggap paling berilmu, mereka punya aturan tidak boleh menggauli istri, kecuali dengan satu cara.

Sedangkan kaum Quraisy sudah biasa melakukannya dengan bervariasi.

Baca Juga: Bukan Jimak! Malam Jumat Jangan Lupa Sunnah Baca Al-Kahfi, Ini Dalil dan Faedahnya

Suatu ketika ada seorang muhajir menikah dengan kaum anshar dan mengajak bergaul suami istri secara variasi, sambil duduk, berdiri, dari belakang dan dari depan.

Hal ini ditolak istrinya dan dianggap perbuatan munkar. Ditambah lagi karena suami-suami mereka ingin melakukan hubungan dalam posisi ijba atau tajbiyah.

Ijba adalah posisi hubungan dimana lelaki mendatangi farji perempuan dari arah belakang. Yang menjadi persoalan, para wanita Madinah itu pernah mendengar,

"Dari Jabir diriwayatkan bahwa orang yahudi beranggapan, jika seseorang bergaul dengan istrinya dari arah belakang, maka anaknya akan juling. Ayat ini turun sebagai bantahan terhadap anggapan tersebut." (HR. Al-Bukhari)

Baca Juga: Suami Sering Minta Jimak, Istri Harus Semangat

Kemudian perselisihan ini diadukan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka turunlah ayat 223 Surah Al-Baqarah ini.

Beliau menandaskan: "Silakan apakah dari belakang, berbaring, duduk, atau berdiri asalkan pada tempat lahirnya anak." (HR. Abu Daud)

Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta'ala ayat 223 Surah Al-Baqarah: "Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman."

Terkait dengan ayat 233 Surah Al-Baqarah, Imam Nawawi menjelaskan,

Halaman:

Editor: Bsafaat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Inilah Amalan-amalan Penghapus Dosa di Hari Jumat

Jumat, 26 November 2021 | 04:45 WIB
X