Saatnya Indonesia Bebas Tb, tapi Penderita Tb Kerap Alami Diskriminasi

INILAH, Jakarta - Beberapa penyintas Tuberkulosis (Tb) yang hadir pada diskusi yang diadakan Dompet Dhuafa menceritakan kerap mendapatkan perlakuan diskriminatif dari keluarga sendiri maupun lingkunga

Saatnya Indonesia Bebas Tb, tapi Penderita Tb Kerap Alami Diskriminasi
Ilustrasi

INILAH, Jakarta - Beberapa penyintas Tuberkulosis (Tb) yang hadir pada diskusi yang diadakan Dompet Dhuafa menceritakan kerap mendapatkan perlakuan diskriminatif dari keluarga sendiri maupun lingkungan.

"Kalau melihat plafon di rumah, seperti ada yang memanggil untuk gantung diri," kata Bambang Ismaya berdasarkan siaran pers dari Dompet Dhuafa yang diterima di Jakarta, Jumat (29/3/2019).

Bambang sebelumnya merupakan penderita Tb kebal antibiotik sejak 2014. Pada 2016, saat sedang menjalani pengobatan, Bambang sempat terpikir untuk bunuh diri karena diskriminasi yang dialami.

"Keluarga menuduh saya malas. Padahal, obat Tb membuat lemas sampai seharian dan pengobatannya harus setiap hari," tutur Bambang yang dinyatakan sembuh pada 2016.

Hal serupa disampaikan Dinsar Manik, penyintas Tb lainnya yang kini aktif di komunitas Pejuang Tangguh (Peta) yang dimotori para penyintas Tb untuk mendampingi pengobatan pasien Tb.

"Salah satu stigma dan diskriminasi yang dialami penderita Tb, misalnya pemecatan secara halus dari perusahaan tempat dia bekerja," katanya.

General Manager Divisi Kesehatan Dompet Dhuafa Rosita Rivai mengatakan, penuntasan kasus Tb juga harus menuntaskan masalah-masalah yang menghalangi pengobatan seperti stigma dan diskriminasi.

Halaman :


Editor : inilahkoran