• Selasa, 19 Oktober 2021

Skateboard dan Kisah Dua Anak Sekolahan Menggebrak Tokyo 2020

- Senin, 26 Juli 2021 | 22:00 WIB
Ilustrasi (antara)
Ilustrasi (antara)

"Enggak benar jika ada anggapan ‘ya kamu harus belajar’, kamu enggak usah skating karena skating itu untuk anak laki," kata Leal seperti dikutip Reuters. "Saya kira skateboarding itu untuk semua orang."

Leal benar, seperti pada cabang olah raga lainnya, skateboard seharusnya untuk semua orang, tidak peduli perempuan atau laki-laki.

Itu sama halnya dengan pandangan bahwa tak elok membiarkan skateboard terus di jalanan ketika anak-anak muda seluruh dunia memainkannya, kendati kebanyakan tidak untuk berkompetisi.

Tak heran jika Komite Olimpiade Internasional (IOC) memasukkan skateboard pada daftar cabang olah raga yang dilombakan di Tokyo 2020 yang sekaligus menandai untuk pertama kalinya skateboard masuk Olimpiade.

Sebagai bagian dari upaya merengkuh pemirsa muda olah raga, skateboarding mengikuti langkah snowboarding atau seluncur salju yang masuk Olimpiade Musim Dingin 1998, dengan menjadi salah satu cabang olah raga yang dipertandingkan dalam Olimpiade.

Mencerminkan muasal cabang olah raga ini yang besar dan populer di jalanan dan taman, maka Olimpiade Tokyo melombakan dua disiplin yakni street dan park yang masing-masing memiliki dua nomor putra dan putri.

Kompetisi street diperlombakan dengan memasukkan rintangan-rintangan khas jalanan, yakni stair atau anak tangga dan rail.

Skateboard adalah satu dari enam cabang olah raga yang baru dilombakan dalam Olimpiade mulai Tokyo 2020. Lima lainnya adalah surfing atau selancar, sport climbing atau panjat tebing, karate, BMX gaya bebas, dan bola basket 3X3.

Kecuali karate, lima cabang olah raga baru Olimpiade ini akrab dengan anak muda.

Dan audiens anak muda pula yang dibidik oleh IOC, bahkan beberapa di antaranya lebih personal seperti saat membidik skateboarder terkenal dari Amerika Serikat, Nyjah Huston.

Halaman:

Editor: suroprapanca

Terkini

X