• Kamis, 21 Oktober 2021

Drama-drama Itu Berakhir Indah untuk Greysia Polii

- Senin, 2 Agustus 2021 | 13:07 WIB

OLIMPIADE adalah ajang penuh drama bagi Greysia Polii. Di penghujung karier, dia melaju ke laga final. Jadi sangat indah ketika dia meraih medali emas.

Peristiwa itu tak mungkin hilang dari kenangan Greysia Polii. Selasa 31 Juli 2012 yang kelam di London. Tiket babak knock-out Olimpiade London sudah di tangan. Tapi, dia dan pasangannya, Meiliana Jauhari justru terusir dari pentas itu.

Bukan hanya Greysia/Meiliana. Juga lawannya di laga terakhir penyisihan Grup C, Ha Jung-Eun/Kim Min Jung dari Korea Selatan. Begitu pula pasangan China Yu Yang/Wang Xiaoli dan Jung Kyung-eun dan Kim Ha-na dari Korea Selatan.

Apa pasalnya? Mereka dinilai tak bermain sungguh-sungguh. Laga Yu/Wang-Jung/Kim bahkan hanya berlangsung 23 menit. Jung/Kim menang 21-14, 21-11.  Satu reli bahkan berlangsung tak lebih dari empat pukulan.

Mereka sengaja menyimpan tenaga. Sebab, besoknya, Rabu 1 Agustus 2012, mereka harus bertempur di babak knock-out.

Wasit Thorsten Berg bahkan sempat mengeluarkan ‘kartu hitam’ pada laga Greysia/Meiliana lawan Ha/Kim, memberi sinyal mereka didiskualifikasi. Tapi, Greysia/Meiliana melancarkan protes sehingga pertandingan dilanjutkan.

Empat tahun kemudian, Greysia kembali ke Olimpiade. Kali ini di Rio de Janeiro, Brasil. Kali ini bersama Nitya Krishinda Maheswari. Di perempat final, mereka kalah dari ganda China, Tang Yuanting/Yu Yang. Di penghujung tahun, Nitya mundur karena harus menjalani operasi lutut.

Sejak kembali ke Jakarta, ketika usianya masih delapan tahun, irama kehidupan Greysia mengalami naik-turun. Jurang yang dia hadapi demikian dalam. Dari peristiwa London 2012, cedera, sampai berpikir gantung raket, tragedi keluarga, hingga kemudian dia menuju final Olimpiade Tokyo 2020.

Sembilan tahun setelah tragedi London 2012, Greysia yang kini berpasangan dengan Apriyani Rahayu, melaju ke final di Tokyo 2020. Dia jadi ganda putri Indonesia pertama yang lolos ke final Olimpiade.

Diskualifikasi di Olimpiade 2012, Greysia mengingat, membuatnya untuk memasang sikap tak pernah mau menyerah mewujudkan mimpinya.

“Begitu banyak orang, tak hanya saya, yang melewati masa sulit yang tak terlupakan. Saya berpikir, Olimpiade London mengajarkan saya untuk tak pernah menyerah mengejar mimpi,” katanya. 

Greysia tak hanya berucap. Dia juga memaknai dalam setiap hari kehidupannya. “Ini bonus dari Tuhan, saya bisa sampai di sini, di final Olimpiade, pada tahun 2021,” tambahnya.

Setelah Olimpiade Rio, lima tahun lalu, Greysia menghadapi masalah berat. Nitya mundur karena cedera serius. Greysia pun sempat berpikir mundur dari bulu tangkis. Untung, pelatihnya Eng Hian, dan keluarganya, meyakinkannya untuk tetap melanjutkan karier.

Lalu, awan gelap itu kemudian berarak. Seorang pemain muda, memiliki pukulan keras, datang menghampirinya. Menyatakan ingin berduet dengannya. Kemampuan Apriyani Rahayu, pemain muda itu, membuat Greysia bisa mendiktekan permainan dari depan.

“Ini memang sebuah perjalanan panjang dari saya. Ini menunjukkan bagaimana kita harus menunggu dan bersabar,” ujarnya soal Apriyani. 

Dia mengaku semua datang tiba-tiba. Dia pun tak tahu dari mana datangnya. Yang pasti, semua itu datang ketika dia berpikir hendang gantung raket.

“Tahun 2017, saya di tim nasional dan berpikir mundur saat rekan saya (Nitya) cedera dan harus menjalani operasi. Tapi pelatih bilang tunggulah sebentar dan bantu pemain-pemain muda untuk berkembang,” katanya.

Lalu, Apriyani datang. Mereka kemudian memenangkan Korea Terbuka dan Thailand Terbuka. Semua datang dan bisa diraih dalam waktu cepat. Sejak itu, dia bahkan berpikir untuk terus main, setidaknya empat tahun lagi.

“Saya tidak muda lagi. Tapi akhirnya dia (Apriyani) datang. Saya sudah menunggunya dalam waktu yang lama,” tambahnya pula.

Dia menyebutkan suasananya kini luar biasa. Di lapangan, mereka bisa menyatu.

“Kami hanya ingin memberikan kemampuan terbaik. Kami kalah dan menang menghadapi lawan. Jadi, kami tak memikirkan soal itu. Kami hanya menyiapkan diri dengan cara sebaik mungkin. Apalagi yang bisa saya katakan,” ujar Greysia seusai mengalahkan ganda Korea Selatan, Lee So Hee/Shin Seung Chan di semifinal.

Apriyani, rekan duetnya yang memiliki tenaga tak pernah habis, memberikan daya serang, melengkapi kombinasi keduanya.

“Saya bilang ke Greysia, jangan mundur, mainlah dengan saya. Dan saya yakin dengan moticasinya, kerja kerasnya setiap hari, kemauan, dan ambisinya menjadi juara,” ujar Apriyani.

Tapi, selalu ada ganjalan bagi Greysia Polii. Akhir tahun lalu, kakak laki-lakinya meninggal. Dia kembali jatuh. Apriyani yang tetap menyemangatinya.

“Saya masih mengenangnya berbulan-bulan. Tahun 2019 dia tahu persis, saya harus mundur dari bulutangkis. Dia puas dengan pencapaian saya, tapi dia bilang tunggulah sampai tahun 2020,” kata Greysia tentang kakaknya itu.

Sang kakak meyakinkan bahwa Greysia/Apriyani hebat di lapangan. Dia, kakak yang juga berperan sekaligus sebagai “ayah” Greysia, memberi wanita asal Minahasa ini semangat.

“Dia mengajarkan saya psikologi. Sampai Maret 2020. Sampai Maret 2020. Olimpiade ditunda tahun lalu. Saya pikir dia harusnya menunggu saya sampai seakarang, tapi dia hanya ingin menunggu sampai pernikahan saya. Kemudian dia pergi,” kenangnya.

“Ayah saya meninggal dunia ketika saya berusia dua tahun dan dia seperti ayah bagi saya. Saya tahu dia bangga dengan prestasi saya, tapi saya tahu dia ingin menunggu pernikahan saya, seorang adik perempuan. Dan lalu dia pergi. Saya pikir saya akan memberikan yang terbaik dan saya tahu dia senang di atas sana,” tambahnya. (ing)

Halaman:

Editor: Zulfirman

Tags

Terkini

Bak MotoGP, Ronaldo dan Messi Balapan Cetak Rekor...

Kamis, 21 Oktober 2021 | 16:15 WIB

Newcastle United Resmi Putuskan Kontrak Steve Bruce

Rabu, 20 Oktober 2021 | 19:30 WIB
X