• Senin, 29 November 2021

Lonjakan Harga Bayangi Kegiatan Konsumen pada Musim Festival India

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 22:45 WIB
Arsip--Orang memadati pasar untuk berbelanja pada malam Diwali, di tengah pandemi COVID-19 di Mumbai, India, Jumat (13/11/2020). Diwali adalah salah satu festival terbesar di India. ANTARA FOTO/REUTERS / Niharika Kulkarni/aww.
Arsip--Orang memadati pasar untuk berbelanja pada malam Diwali, di tengah pandemi COVID-19 di Mumbai, India, Jumat (13/11/2020). Diwali adalah salah satu festival terbesar di India. ANTARA FOTO/REUTERS / Niharika Kulkarni/aww.

INILAHKORAN, Bandung-Bagi penduduk Delhi Suman Milind, harga-harga yang melonjak di India membayangi perayaan Festival Cahaya Diwali pada tahun ini.

Ibu rumah tangga berusia 33 tahun itu mengencangkan ikat pinggang dan mengatur pengeluarannya, akibat lonjakan harga bahan bakar, transportasi, dan berbagai barang manufaktur. Peningkatan harga itu terjadi bersamaan dengan pendapatan yang tersendat akibat pandemi COVID-19.

“Sebelumnya, kita dapat membeli empat hingga lima kotak buah kering selama masa festival, namun sekarang mendapatkan satu atau dua saja susah. Akibat harga yang tinggi,” kata Milind, yang menambahkan bahwa keluarganya telah mengurangi pengeluaran untuk makanan dengan mengurangi konsumsi daging menjadi sekali dalam sepekan.

Baca Juga: India Tunda Pengiriman Vaksin ke COVAX

Jutaan rumah tangga di India menghadapi tekanan serupa atas keuangan mereka menjelang Diwali, yang jatuh pada awal November tahun ini dan menandakan musim belanja tertinggi untuk barang-barang konsumsi di negara itu.

Banyak dari mereka yang meninggalkan pembelian-pembelian besar seperti  televisi dan perhiasan pada musim yang meriah ini, menurut setengah lusin orang yang berbincang dengan Reuters serta sebuah jajak pendapat terhadap konsumen oleh lembaga konsultan Mumbai Axis My India.

Pelemahan tersebut mengancam gerak ekonomi India yang tengah berada dalam pemulihan  dari dampak terburuk COVID-19.

Baca Juga: India Anjurkan Vaksin Covid-19 Lokal Bagi Anak di Bawah 12 Tahun

Harga bensin dan solar naik hampir 35 persen dibandingkan tahun lalu dan harga gas rumah tangga meningkat lebih dari 50 persen. Lonjakan tersebut sangat memukul bagi lebih dari tiga perempat rumah tangga, kata para ekonom.

"Harga bensin dan gas untuk memasak yang meroket sangat menyulitkan, ketika pendapatan kami masih turun hampir 30 persen dari periode sebelum pandemi," kata Sultan Singh Tomar (53 tahun) yang memasok dupa dan peralatan dapur ke toko-toko di New Delhi menggunakan skuternya.

Dia mengatakan bahwa pengeluarannya untuk bensin naik sebesar 600 rupee (sekitar Rp 113.000) dari tahun lalu dan pengisian ulang tabung gas memasak meningkat sebesar 400 rupee (sekitar Rp 75.000).

Baca Juga: Dinilai Jadi Penyebab Polusi Suara, Menteri India Bakal Ganti Klakson Pakai Suara Ini Inbox

Tomar termasuk di antara jutaan orang yang bekerja di sektor informal yang harus menggunakan tabungannya selama pandemi dan sekarang terpaksa mengurangi pengeluaran rumah tangga.

Selama berbulan-bulan, inflasi berbasis harga konsumen di India berada di atas tingkat aman bank sentral sebesar 6 persen, didorong oleh peningkatan harga-harga makanan.

Pada September, indeks harga konsumen menurun ke 4,35 persen, didorong dengan harga makanan yang melemah. Harga makanan sendiri merupakan setengah dari indeks tersebut.

Para ekonom mengatakan bahwa angka tersebut memberikan gambaran yang lebih baik terkait apa yang dihadapi oleh rumah-rumah tangga.

Baca Juga: India Protes Inggris: Pengunjung dari India Jalani Karantina Meski Sudah Vaksin Lengkap

Menurut laporan Axis My India pada  Oktober terkait tren pengeluaran konsumen, lebih dari 88 persen responden dalam jajak pendapat mengatakan bahwa mereka tak akan membeli barang-barang seperti pendingin ruangan, televisi, mesin cuci, atau perhiasan pada musim festival ini dan hampir setengah mengatakan mereka akan membeli barang-barang dengan kisaran harga lebih rendah seperti pakaian.

Tak banyak yang dapat dilakukan oleh pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi untuk mengurangi kesulitan tersebut, di tengah peningkatan harga minyak mentah global yang mencapai level tertinggi dalam tiga tahun, sebesar 85 dolar AS (Rp1,2 juta) per barrel. Hal tersebut semakin menekan India, negara yang mengimpor 80 persen minyaknya.

Halaman:

Editor: JakaPermana

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X