Stunting Bisa Diturunkan ke Anak, Mitos atau Fakta?

INILAH, Jakarta - Stunting atau kerdil/gagal tumbuh akibat kekurangan nutrisi berdampak buruk pada penderitanya. Apakah kondisi ini bisa diturunkan ke generasi berikutnya?

Stunting Bisa Diturunkan ke Anak, Mitos atau Fakta?
Ilustrasi

INILAH, Jakarta - Stunting atau kerdil/gagal tumbuh akibat kekurangan nutrisi berdampak buruk pada penderitanya. Apakah kondisi ini bisa diturunkan ke generasi berikutnya?

"Stunting itu karena lingkungan, bukan genetik. Bisa cara makan atau lainnya. Yang diturunkan cara makannya. Kalau faktor lingkungan diperbaiki bisa membaik," ujar dokter spesialis anak, nutrisi, dan penyakit metabolik dari RSCM, Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K) di Jakarta, Rabu (23/1/2019).

Hanya saja, apabila seorang anak sudah mengalami stunting dan terdeteksi sebelum usia dua tahun, perbaikan nutrisi tak akan bisa memperbaiki khususnya IQ-nya seperti anak normal.

"Kalau membaik tetapi tidak bisa sama seperti seharusnya. Kalau sudah di atas 2 tahun, IQ akan selalu di bawah anak normal," tutur dia. Penelitian dalam jurnal Nutritional Neuroscience pada 2014 menunjukkan, anak stunting angka mortalitasnya 4 kali lebih tinggi, IQ bisa turun 11 dan income-nya di masa depan bisa turun 22 persen (kesempatan bekerja terbatas karena IQ rendah).

Selain itu, dia akan mengalami sejumlah masalah kesehatan seperti penurunan fungsi kekebalan, gangguan sistem pembakaran lemak dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, anak akan mengalami obesitas, penurunan toleransi glukosa, penyakit jantung koroner, hipertensi, dan osteoporosis.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi stunting di Indonesia sebesar 30,8 persen, masih jauh di atas ambang yang ditetapkan WHO yakni 20 persen. Damayanti mengatakan, terkait stunting, pemenuhan gizi yang lengkap pada dua tahun pertama masa kehidupan memiliki peran yang krusial.

Setelah pemberian ASI eksklusif pada tahun pertama kehidupannya, anak membutuhkan makanan pendamping dengan kandungan karbohidrat, lemak, dan protein.

"Faktanya di Indonesia, konsumsi asupan protein hewani masih tergolong rendah, sehingga banyak kasus stunting terjadi. Padahal, investasi protein hewani sangatlah penting, mengingat kandungan asam amino esensial terlengkap di dalamnya," papar dia.

Halaman :


Editor : inilahkoran